Kamis, 02 Feb 2017 08:31 WIB

Tak Hanya Permudah Transportasi, Rumah Singgah Juga Bantu Psikologis Pasien

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi rumah singgah/ Foto: M. Reza Sulaiman
Jakarta - Akses dan biaya transportasi memang alasan utama mengapa pasien kanker memutuskan tinggal di rumah singgah. Namun menurut pakar, manfaat tinggal di rumah singgah bukan hanya itu.

dr Walta Gautama, SpB(K)Onk, dari RS Kanker Dharmais sudah sering berhadapan langsung dengan pasien kanker. Berdasarkan pengalamannya berinteraksi dan berbicara dengan pasien kanker, ada beberapa manfaat psikologis yang dimiliki oleh pasien yang tinggal di rumah singgah.

"Secara psikologis memang saya rasa rumah singgah memiliki peranan. Salah satunya, pasien tidak terlalu stres soal anak karena dia tidak membebani anaknya," tutur dr Walta, ditemui di Rumah Singgah YKPI, Jl Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat.

Dikatakan dr Walta, pasien kanker yang baru pertama kali berobat tentunya memiliki pendamping. Sebagian besar, pendamping pasien adalah keluarga, baik anak ataupun pasangannya.

Nah, ketika anak mendampingi pasien kanker berobat, ia harus mengorbankan waktunya untuk sekolah atau bekerja. Hal ini tentu saja menjadi beban sendiri bagi pasien. Bahkan bisa saja pasien berhenti melakukan pengobatan karena tidak ingin anaknya terlantar atau merasa tidak diurus.

"Ini benar dan kejadian di RS Dharmais. Makanya kalau ada rumah singgah kan dia dekat mau bolak-balik ke rumah sakit. Jadi pendamping paling beberapa hari awal saja, setelah itu pasien sendiri. Tapi keluarga tetap bisa menjenguk," tambahnya.

Baca juga: Resmikan Rumah Singgah YKPI, Linda Gumelar: Supaya Pasien Makin Mudah Berobat

Selain tidak membebani keluarga, stres pasien juga berkurang karena rumah singgah ditempati oleh pasien lain dengan masalah yang sama. Dengan begitu, pasien bisa bertukar cerita dan sharing bersama orang lain yang memiliki masalah serupa.

Linda Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengatakan ke depannya, akan ada sesi sharing dan cerita bersama motivator atau psikolog untuk menjaga kesehatan jiwa pasien. Bahkan dalam waktu dekat, pasien juga akan dikunjungi relawan yang bisa mengajarkan keterampilan.

"Kita inginnya seperti itu ya, ada motivator dan ada relawan yang bisa mengajarkan keterampilan. Karena kita yang mengelola rumah singgah ini juga pernah berada di posisi yang sama dengan yang sedang mereka hadapi saat ini," pungkasnya.

Baca juga: Kalau Rutin Cek Kesehatan, Gejala Dini Kanker Bisa Dikenali


(mrs/up)