Minggu, 05 Feb 2017 15:06 WIB

Studi Ungkap Dampak Kebanyakan Obat Pereda Nyeri pada Hati

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Paracetamol telah menjadi pilihan banyak orang untuk meredakan nyeri yang dirasakannya. Namun kebanyakan minum paracetamol tak ubahnya meracuni diri sendiri.

Hal ini dikemukakan peneliti dari University of Edinburgh setelah mengamati dampak konsumsi obat pereda nyeri tersebut pada sel-sel tikus dan manusia.

Hasil percobaan mereka menunjukkan bahwa paracetamol dapat merusak hati dengan cara mengganggu koneksi vital di antara sel-sel yang ada dalam organ tersebut.

Padahal jika koneksi antarsel tersebut terganggu, maka otomatis struktur jaringan organ hatinya mengalami kerusakan dan tak dapat berfungsi seperti sediakala.

Menurut peneliti, kerusakan semacam ini lumrah ditemukan pada mereka yang mengidap sejumlah penyakit pada hati, di antaranya hepatitis, sirosis hati dan kanker.

"Paracetamol telah menjadi obat pereda nyeri pilihan nomor satu di dunia. Selain murah, ini juga dianggap aman dan efektif, tetapi bukan berarti kita bisa mengabaikan efek samping dari konsumsi obat ini," kata salah satu peneliti, Dr Leonard Nelson seperti dilaporkan www.ed.ac.uk.

Peneliti berharap bisa menemukan alternatif pengobatan yang lebih aman dengan mengacu pada temuan ini.

Saat ini mereka memfokuskan penelitian pada seberapa besar dosis paracetamol yang bisa menyebabkan keracunan dalam hati, agar dapat diantisipasi sebelum akhirnya benar-benar terjadi pada pengguna paracetamol.

Baca juga: Hati-hati, Obat Jenis Ini Merusak Ginjal Jika Dikonsumsi Jangka Panjang

dr Jimmy FA Barus, MSc, SpS dari Universitas Katolik Atmajaya mengatakan, tiap orang boleh-boleh saja mengonsumsi analgetik atau obat pereda nyeri jika merasakan nyeri ringan seperti nyeri kepala atau nyeri pinggang. Tetapi jika dibeli bebas di pasaran, ia meminta untuk lebih berhati-hati.

"Kalau satu dua hari nggak hilang atau malah tambah parah, langsung konsultasi ke dokter. Jangan ditambah terus dosisnya," kata dr Jimmy seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Ia khawatir jika dosis obatnya ditambah sendiri tanpa konsultasi dengan dokter, maka kelak akan lebih sulit ditangani jika keadaannya sudah memburuk.

Selain itu, pada kondisi tertentu, nyeri yang tak kunjung hilang bisa jadi pertanda bahwa ada sesuatu yang lebih buruk terjadi pada tubuh. Misalnya nyeri perut bagian kanan bisa jadi adalah gejala usus buntu.

Baca juga: Jangan Sembarangan Minum Obat Pereda Nyeri, Gangguan Pendengaran Risikonya (lll/vit)