Minggu, 19 Feb 2017 13:04 WIB

Menerka-nerka Jenis Racun yang Membunuh Kim Jong-Nam

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (Foto: detikcom/Alexander Su)
Jakarta - Kasus pembunuhan Kim Jong-Nam, kakak tiri penguasa Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un banyak menyimpan teka-teki. Selain tentang peran Warga Negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah yang menjadi salah satu tersangka, juga tentang racun yang dipakai dalam pembunuhan tersebut.

Rekaman CCTV di Bandara internasional Kuala Lumpur (KLIA) Malaysia menunjukkan, Jong-Nam disergap lalu disemprot cairan. Ia kesakitan, mencari pertolongan namun akhirnya meninggal dunia. Diduga, cairan tersebut berisi racun mematikan.

Butuh waktu untuk mengungkap penyebab kematian Jong-Nam yang sesungguhnya. Namun berbagai spekulasi sudah beredar terkait jenis racun yang digunakan. Beberapa media internasional menyebut, salah satu kemungkinannya adalah tetrodotoksin, senyawa mematikan dalam racun ikan fugu.

Tetrodotoksin (tetrodotoxin) diekstrak dari ikan fugu dan merupakan racun mematikan yang bisa membunuh dalam waktu singkat. Pemerhati neuroscience dan biosecurity dr Wawan Mulyawan menyebut, racun ini bisa membunuh manusia hanya dalam kadar 1-2 mg/kgBB.

"Jika Kim Jong.Nam beratnya sekitar 80 kg, maka dosis letalnya sekitar 100 mg (0,1 gram). Jauh lebih rendah dosis letalnya dibandingkan racun sianida yang 2-4 kali lipatnya untuk bisa menyebabkan kematian," kata dr Wawan, dalam emailnya kepada wartawan.

Baca juga: Racun Sianida Juga Ada di Singkong, Mengapa Tidak Bikin Keracunan?

Menerka-nerka Jenis Racun yang Membunuh Kim Jong-NamFoto: thinkstock


Racun tetrodotoksin bekerja dengan memblokade aliran ion natrium (Na+) ke dalam sel saraf. Penghantaran listrik terhambat, sehingga sistem saraf menjadi lumpuh. Akibatnya, otot-otot tidak bekerja. Ketika yang terpengaruh adalah otot jantung dan pernapasan, maka dampaknya akan fatal.

Satu lagi yang perlu diketahui tentang tetrodotoksin adalah bahwa racun ini belum ada penawarnya. Menurut dr Wawan, sudah ada beberapa peluang antibodi monoklonal spesifik yang bisa menjadi penawar, tetapi hingga kini belum ada hasil yang mengembirakan.

"Jika menyebabkan gagal napas, maka obatnya adalah masuk ICU (Intensive Care Unit) dan dipasang alat bantu napas permanen sampai efek racun hilang dengan sendirinya. Inipun jika tidak merusak sel saraf yang ada di organ tubuh yang lain," jelas dr Wawan.

Simak juga video 20detik berikut ini:



Baca juga: Mengenal Sianida, Racun Pembajak Oksigen yang Sangat Mematikan (up/vit)