Jumat, 24 Feb 2017 13:40 WIB

20 Tahun Domba Dolly, Seberapa Jauh Ilmu Genetik Berkembang?

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto ilustrasi: Thinkstock Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Pada 22 Februari 1996 lalu seekor domba bernama Dolly lahir dan sempat membuat gempar. Alasannya karena Dolly adalah mamalia kloningan pertama di dunia yang sukses diciptakan oleh para peneliti Roslin Institute, Skotlandia.

Menurut catatan peneliti membutuhkan 276 kali percobaan sampai Dolly bisa lahir ke dunia. Berkat kelahirannya, dari data yang terkumpul ilmu genetik bisa berkembang dengan pesat hingga sekarang.

"Untuk seorang ahli biologi perkembangan, saat itu kemampuan mengkloning seekor mamalia yang rumit dianggap mustahil," ujar Lawrence Brody dari National Human Genome Research Institute (NHGRI).

"Akan tetapi kelahiran Dolly membuktikan bahwa kita semua salah... Sangat jarang hanya dari satu studi dampaknya bisa membawa perkembangan yang begitu cepat dan besar," lanjut Lawrence seperti dikutip dari Live Science, Jumat (24/2/2017).

Baca juga: Menkes Ingin Peneliti Indonesia Mulai Kembangkan Riset Sel Punca

Dari peristiwa Dolly para peneliti dunia mulai bisa mengembangkan terapi sel punca. Selain itu ilmu untuk melakukan modifikasi genetik juga terpacu dan belakangan lahir teknologi terbaru bernama CRISPR.

Lawrence mengatakan kedua hal tersebut punya potensi besar untuk membantu mencari jalan memperbaiki jaringan yang rusak atau melawan penyakit genetik.

"Tentunya kita belum sampai pada tingkat itu, tapi semua ini adalah sesuatu yang bisa dilacak kembali pada kesuksesan domba Dolly," ungkap Lawrence.

Studi paling baru yang juga masih berhubungan dengan domba Dolly adalah kesuksesan peneliti di Salk Institute, Amerika Serikat, dalam menciptakan embrio chimera gabungan dari manusia-babi. Menurut peneliti chimera tersebut nantinya dapat dimanfaatkan menyelesaikan masalah ketersediaan organ untuk transplantasi.

Baca juga: Embrio Chimera Manusia-Babi Berhasil Diciptakan (fds/up)
News Feed