Minggu, 05 Mar 2017 18:10 WIB

Studi Sebut Kanker Usus 'Intai' Generasi yang Lahir Tahun 90-an

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Kanker bisa terjadi pada siapa saja, dan banyak pakar yang mengingatkan jika faktor risiko terbesarnya adalah gaya hidup, bukannya keturunan. Kanker juga tak lagi identik dengan orang tua.

Penelitian terbaru yang dilakukan American Cancer Society bekerjasama dengan National Cancer Institute menemukan adanya peningkatan jumlah kasus kanker usus dan kanker anus pada orang Amerika kelahiran tahun 1990 ke atas atau di bawah usia 55 tahun.

Bahkan peneliti mengatakan mereka yang lahir di tahun 1990-an berisiko dua kali lipat terkena kanker usus dan empat kali lipat untuk kanker anus. Hal ini dipastikan peneliti setelah mengamati data 500.000 kasus kanker usus dalam kurun tahun 1974-2013.

Rebecca Siegel, ketua tim peneliti mengatakan dalam kurun tiga dekade terakhir, jumlah kasus kanker usus untuk mereka yang berusia 20-an meningkat dari yang hanya 1 kasus menjadi 2 kasus dari 200.000 orang. Demikian seperti dilaporkan CNN.

Padahal bagi mereka yang berusia di bawah 50 tahun, jumlah kasusnya dalam satu tahun yaitu di tahun 2013 saja hanya 7 kasus per 100.000 orang saja. Sedangkan untuk mereka yang usianya di atas 50, kasusnya menurun sampai 100 kasus per 100.000 orang.

Kendati demikian, peneliti juga tidak melihat adanya peningkatan kasus kematian akibat kanker usus pada generasi muda. "Untungnya, kanker usus sendiri masih jarang ditemukan pada individu berusia di bawah 50. Tetapi kita masih perlu mengkhawatirkan trennya," timpal George J Chang, kepala divisi bedah usus dari MD Anderson Cancer Center.

Persoalan lainnya adalah ketika pasien muda mendapati gejala kanker usus seperti kembung, penurunan bobot yang drastis, sembelit atau BAB berdarah, mereka masih tidak yakin jika itu kanker. Mereka baru mau menemui dokter jika gejalanya sudah tidak tertahankan lagi.

Sejauh ini Siegel menuding meningkatnya tren obesitas di balik kanker usus pada generasi muda, meskipun efeknya dikatakan tidak langsung.

Baca juga: Catat! 4 Gejala Kanker Usus Besar Ini Wajib Anda Periksakan ke Dokter

Kendati peningkatan angka kejadian tersebut baru tercatat di AS, nyatanya banyak pakar sepakat bahwa kanker usus memang lebih dipengaruhi oleh diet atau pola makan, utamanya yang tinggi lemak protein namun kurang serat.

Tahun lalu, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology menemukan, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak seperti junk food dapat meningkatkan risiko kanker usus sebab kebiasaan ini memicu mutasi pada sel-sel di dalam usus.

"Diet tinggi lemak mengubah biologi sel induk di usus dan mengubah sel non-stem yang lama-kelamaan mengarah ke pembentukan tumor," terang si peneliti, Omer Yilmaz.

Menariknya, di tahun yang sama, tim peneliti dari University of Minnesota menemukan teori lain di balik risiko kanker usus pada orang bertubuh jangkung. Kaitannya terletak pada pengaruh hormon pertumbuhan yang disebut 'insulin-like growth factor-1'. Menurut peneliti keberadaan hormon yang aktif di masa pubertas ini menjadi salah satu faktor risiko kanker usus.

Tidak menutup kemungkinan jika kemudian generasi muda berisiko tinggi terserang kanker usus mengingat hormon pertumbuhan mereka sedang aktif-aktifnya. Ditambah lagi pola makan generasi muda dewasa ini lebih banyak didominasi makanan tak sehat atau tinggi lemak dan protein tetapi kurang serat.

Baca juga: Rajin-rajin Jaga Kesehatan, Tubuh Jangkung Lebih Berisiko Kanker Usus (lll/vit)