Jumat, 17 Mar 2017 10:01 WIB

Pria Bertubuh Pendek Lebih Berisiko Alami Kerontokan Rambut

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Semakin tua umum bagi seorang pria alami semacam kerontokan rambut yang disebut androgenetic alopecia. Kapan kerontokan ini terjadi dan seberapa parah selama ini tidak bisa diprediksi karena beragam untuk tiap individu.

Hanya saja studi terbaru menemukan ada beberapa ciri pria yang diketahui bisa lebih berisiko mengalaminya. Dipublikasi dalam jurnal Nature Communication peneliti dari University of Bonn melihat ada sekitar 63 perubahan pada genetik pria yang bisa berkaitan dengan kerontokan rambut.

Baca juga: 5 Prosedur yang Diyakini Bakal Ampuh Atasi Kebotakan

Beberapa perubahan genetik tersebut berkaitan dengan penyakit seperti penyakit jantung dan kanker prostat. Namun selain itu ada juga genetik kerontokan rambut yang berhubungan dengan karakteristik seperti pubertas dini dan postur tubuh kecil atau pendek.

Pria yang tingginya pendek disebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami kerontokan yang berujung pada kebotakan prematur.

Professor Markus Nothen dari departemen Institute of Human Genetics, University of Bonn, mengatakan hanya saja mekanisme di balik gen tubuh pendek dengan kebotakan rambut ini masih belum jelas. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap hal tersebut.

"Sangat menarik untuk mengetahui bahwa kerontokan rambut bukanlah karakteristik yang terisolasi. Melainkan bisa menunjukkan beragam hubungan dengan karakteristik-karakteristik lainnya," kata Prof Markus seperti dikutip dari situs resmi universitas pada Jumat (17/3/2017).

Kasus kerontokan rambut pria biasanya dimulai dari folikel rambut menyusut dan menghasilkan rambut-rambut mikroskopis, yang tumbuh untuk durasi yang lebih singkat daripada rambut normal. Penyebabnya dalam studi yang lain diduga karena protein yang disebut Prostaglandin D2 (PGD2).

Pada pria yang mengalami kerontokan hingga botak tingkat protein PGD2-nya hampir 3 kali lipat dibandingkan normal.

"Protein tersebut benar-benar menurunkan pertumbuhan rambut. Protein untuk dapat menghambat pertumbuhan rambut, maka harus terikat ke reseptor (GPR44). Reseptor tersebut adalah target untuk perawatan masa depan untuk memerangi kebotakan," kata Dr George Cotsarelis, seorang profesor Dermatologi di Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania.

Baca juga: Video: Perlu Tahu Nih! Tips Mengatasi Rambut Rontok dan Mencegah Kebotakan

(fds/vit)
News Feed