Sabtu, 18 Mar 2017 11:12 WIB

Sering Curhat, Bisakah Jadi Petunjuk Keinginan Bunuh Diri?

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Pria bernama Indra menyiarkan tindakan bunuh diri secara live di Facebook. Sebelum bunuh diri, pria asal Jagakarsa, Jakarta Selatan ini diketahui beberapa kali curhat tentang keadaannya.

Salah satu orang yang sering dicurhati Indra adalah tukang nasi goreng langganannya, Rama (20). Pria ini mengaku sering mendengar curhat Indra tentang kehidupan ekonominya, utamanya tentang jumlah penumpang yang sepi. Maklum, Indra adalah pengemudi taksi online.

"Orangnya baik, ramah, suka bercanda. Seneng ngomongin politik. Ngeluh masalah narik dan biaya hidup. Kayak, 'narik sepi ujan mulu bang'," ujar Rama mencontohkan omongan Indra.

dr Andri, SpKJ, FAPM dari RS Omni Alam Sutra menjelaskan, beragam masalah kehidupan seperti kondisi finansial, keluarga maupun pasangan bisa saja menjadi pemicu seseorang untuk melakukan tindak bunuh diri.

"Tetapi orang memutuskan untuk bunuh diri itu juga tidak mudah lho, walaupun sifatnya impulsif," paparnya kepada detikHealth saat dihubungi, Sabtu (18/3/2017).

Di sisi lain, sering curhat saja tidak bisa jadi alat prediksi apakah seseorang akan melakukan bunuh diri atau tidak. "Hanya saja memang kita harus tetap waspada, misalnya kalau ada orang yang ngomongin soal mati," pesannya.

Namun ketika ditanya kemungkinan darimana Indra mendapat ide untuk melakukan tindakan bunuh diri secara live di media sosial, dr Andri juga mengaku tak bisa menduganya secara pasti.

"Di Korea Selatan saja, di mana angka bunuh dirinya tertinggi di Asia, akses internet untuk situs-situs atau artikel tentang cara-cara bunuh diri saja sudah nggak ada," katanya.

Baca juga: Pelajaran di Balik Kasus Bunuh Diri yang Live di Facebook

Beberapa waktu lalu, dr Albert Maramis, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia juga mengatakan, ketika ada teman atau kerabat yang mengutarakan keinginannya untuk bunuh diri, maka jangan ditolak atau dialihkan.

"Karena bisa jadi dia percaya dengan kita, dan bisa saja ini menentukan hidup atau mati dia. Jadi jangan ditolak atau dialihkan dengan kata-kata 'udah jangan nangis terus' atau suruh nyebut," ungkapnya.

Jangan pula diberhentikan atau dialihkan dengan hal lain semisal mengajaknya jalan-jalan atau minum kopi. Karena ketika kita melakukannya, teman yang tadinya ingin minta tolong akan berhenti melakukannya.

Yang terbaik adalah menjadi pendengar dan mendampinginya dengan ikhlas, serta memberikan apa yang menjadi kebutuhannya. "Kalau dia maunya diam saja, ya kita dampingi. Ketika dia butuh saran atau nasihat, kita berikan sesuai kemampuan. Namun jika memang kita tak bisa membantu, bisa juga didampingi dengan mengajak ke tenaga profesional seperti dokter atau psikolog untuk membantu menyelesaikan masalahnya," pungkasnya.

Ditelusuri dari laman Facebook-nya, pada tanggal 8 Januari lalu, Indra juga sempat membagikan tulisan dari seorang netizen tentang 'ayah yang berakhir di tiang gantungan'. Tulisan ini berisi kegundahan seorang ayah yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, namun di sisi lain, istri dan anak merengek minta dipenuhi kebutuhannya.

Begitu pula sebelum menyiarkan video gantung dirinya di Facebook, Indra juga sempat mengunggah video curhat tentang kecintaannya pada sang istri, dan kebimbangannya ketika sang istri kemudian meninggalkannya.

Baca juga: Kenali, Ini Ciri-ciri Orang-orang yang Rentan Bunuh Diri (lll/vit)