Rabu, 22 Mar 2017 14:49 WIB

Kaitan Depresi dan Bunuh Diri dengan Kepribadian Sehari-hari

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Inao Jiro (kiri)/Foto: Buku Laptime JKT48 karya Dhimas Ginandjar
Jakarta - WN Jepang sekaligus manajer JKT 48, Inao Jiro, bunuh diri dengan cara menggantung diri di kamar mandi rumahnya. Pengakuan dari rekan kerjanya, Jiro dikenal sebagai sosok yang periang.

"Jiro ini sosoknya periang. Optimistik orangnya. Baik sih kalau bertemu. (Dia) bergaul kok," tutur Clement, GM Operational Hits Record yang mengaku kenal cukup baik dengan Jiro, dikutip dari detikHot.

Secara terpisah, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri berawal dari gangguan kejiwaan depresi yang dialami seseorang. Depresi membuat seseorang merasa putus asa, tidak berdaya dan tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.

Baca juga: Karyawati Cantik Bunuh Diri, Diduga Depresi karena Kebanyakan Lembur

Meski begitu, hal-hal tersebut tidak selalu muncul ke permukaan. Sehingga sangat wajar jika ada seseorang yang terlihat periang namun sejatinya sedang dalam keadaan putus asa dan tidak lagi memiliki harapan hidup.

"Yang harus diperhatikan oleh kita adalah jika ada teman, kerabat atau keluarga yang sebelumnya periang dan outgoing, tiba-tiba tertutup dan menarik diri, tidak ada lagi motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala ini sering ditemukan pada orang depresi," tambahnya lagi.


Dalam tahap lanjut, depresi akan membuat seseorang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pikiran-pikiran negatif seperti 'untuk apa lagi saya hidup' atau 'jika saya mati mungkin keadaan akan lebih baik' mulai memasuki otak.

"Orang yang bunuh diri sudah sampai seperti itu. Jadi dia anggap bunuh diri bisa membuat keadaan lebih baik, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi orang lain di sekitarnya," tandasnya lagi.

Apalagi, depresi masih dianggap sebagai bentuk kelemahan pribadi seseorang dan sering kali diabaikan. Padahal depresi merupakan gangguan jiwa serius yang harus segera ditangani sebelum bertambah parah.

"Maka dari itu kita harus berempati dengan orang-orang yang mengalami kondisi seperti ini. Jangan dianggap lemah atau malah dibully, tapi dirangkul dan biarkan dia cerita. Kalau perlu, segera bawa ke profesional terlatih seperti psikolog klinis atau psikiater untuk mendapatkan bantuan," paparnya.

Baca juga: Bunuh Diri Karena Beban Kerja Terlalu Berat, Bisakah Terjadi? (mrs/up)