Kamis, 23 Mar 2017 09:41 WIB

Edukasi Berlapis Bisa Jadi Upaya Agar Pasien TB Tak Drop Out

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Timika - Drop out atau stop minum obat sebelum waktunya membuat tak tuntasnya pengobatan tuberkulosis atau TB. Cara seperti ini pun berpotensi memicu TB MDR (Multi Drug Resistance). Untuk menghindari ini, edukasi penting diberikan pada pasien.

Hanya saja, kadang ada pasien yang hanya mengiyakan ketika diberi edukasi tapi pada praktiknya, pasien tak mengindahkan anjuran untuk patuh minum obat. Nah, TB Clinic yang merupakan bagian dari Puskesmas Timika, di bawah naungan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, menerapkan edukasi berlapis.

"Jadi di awal datang, pasien akan bertemu kak Cheryl, dia perawat. Nanti didata bagaimana kondisi pasien, kelengkapan data, ditimbang berat badannya, di situ pasien sudah dikasih edukasi," kata dr Indah Puspitasari selaku dokter di TB Clinic, ditemui di Puskesmas Timika, Timika, Papua, Rabu (22/3/2017).

Kemudian, pasien akan diperiksa oleh dr Indah. Selama pemeriksaan, pasien juga diberi edukasi soal kemungkinan TB yang dialami. Untuk pemeriksaan penunjang, pasien bisa menjalani tes dahak atau foto toraks di TB Clinic tersebut. Jika memang hasilnya positif, maka pasien akan menuju ke konselor bernama Nurdin.

"Pak Nurdin ini yang ngasih konseling ke pasien. Menjelaskan apa akibatnya kalau drop out obat, bagaimana pentingnya berobat tuntas, dan apa saja yang mesti dilakukan pasien. Termasuk pemahaman bahwa alat makan nggak perlu dipisah misalnya," tutur dr Indah.

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Begini Cara Bedakan Gejala Kanker Paru dan TB

Setelah ke 'pos' konseling, pasien akan menuju ke bagian farmasi yang digawangi oleh Petrus atau akrab disapa om Pet. Di sini, Petrus akan menghitung kapan tanggal pasien harus kontrol berobat dan mengambil obat. Masing-masing pasien sudah disiapkan obat per boks.

"Jadi om Pet ngingetin juga kapan pasien mesti balik. Selama itu juga pasien diberi edukasi. Ibaratnya dijejali edukasi deh," kata dr Indah.

Pengawasan minum obat juga dilakukan tim dari TB Clinic. Ketika ada pasien yang mestinya kontrol tapi tidak datang maka akan dihampiri ke rumahnya. Untuk memudahkan petugas di lapangan, mereka juga dibekali dengan peta domisili sampai nomor telepon pasien.

Terbukti, edukasi berlapis ampuh menurunkan tingkat DO pasien. Di tahun 2012, 2013, dan 2015, jumlah DO nol persen dengan jumlah kasus 235, 261, dan 210. Hanya saja, di tahun 2014 dengan jumlah kasus 206, tingkat DO masih ada 0,9 persen.

dr Indah mengatakan, di TB Clinic, per bulan ada 700 kunjungan pasien. Dalam seminggu, biasanya ditemui tiga sampai lima kasus baru TB. Dari seluruh kasus, 80 persennya merupakan kasus TB Paru.

Dalam kesempatan sama, Manager Community Health Development (CHD) PT Freeport Indonesia, Govert Waramori mengatakan nol persen angka drop out bertujuan agar jangan ada pasien yang DO supaya TB MDR bisa terhindar dan pastinya agar kesembuhan pasien bisa dicapai.

"Di sini obat untuk TB gratis dari pemerintah. Pemeriksaan pun gratis. Hanya saja untuk obat penunjang disediakan oleh kami. Di sini juga ada kolaborasi kalau ada yang positif TB kita ajak untuk periksa HIV. Begitu juga kalau dia positif HIV kita ajak tes TB," kata Govert.

Baca juga: RI Peringkat 2 Negara dengan Kasus TB Tak Terlaporkan (rdn/up)