Kamis, 23 Mar 2017 11:11 WIB

Respons Pasien TB Saat Diedukasi: Takut Stigma, Ngotot, Hingga Patuh

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Reza/detikHealth)
Timika - Edukasi soal Tuberkulosis atau TB penting dilakukan, terutama terkait pengobatan TB. Dengan begitu keberhasilan pengobatan bisa dicapai. Hanya saja, kadang respons masyarakat bisa berbeda-beda saat diberi edukasi.

Seperti diungkapkan koordinator lapangan Cepat Perdhaki yang memberi penyuluhan soal TB dari RS Mitra Masyarakat, Valentin Wenehen, ia dan tim setiap hari turun ke lapangan jalan dari rumah ke rumah untuk melihat pasien yang mereka dampingi.

"Selain pada pasien, kita juga kasih pembekalan ke keluarga untuk jadi PMO atau pendamping minum obat. Ada pasien yang tidak mau menerima dan jika begitu akan kita kasih penjelasan," kata Valentin ditemui di RS Mitra Masyarakat, Timika, Papua, Rabu (22/3/2017).

Kadang kala ada pasien yang merasa takut didiskriminasi. Misalnya, penggunaan alat makannya takut dipisah, dijauhi, atau bahkan dikucilkan. Walaupun, tidak ada pasien TB yang sampai dikucilkan seperti itu.

"Ibaratnya dia takut dapat stigma dari masyarakat terus putus asa gitulah. Kalau gitu, kita tetap bujuk dia agar mau berobat tuntas. Memang nggak mudah, nggak bisa sekali. Kita harus lakukan berkali-kali," tambah Valentin.

Baca juga: Unik! Ada ATM Dahak di Rumah Sakit Ini

"Biar begitu ada yang ngotot juga. Bilang TB kan menular bisa dari air liur. Nah liur kan kontak sama sendok, jadi bisa dong tertular. Kalau gitu lagi-lagi kita kasih penjelasan. Ada juga pasien yang iya iya saja tapi ternyata dia nggak paham," tambahnya.

Meski begitu, ada pula pasien yang bisa menyenangkan bagi Valentin dan penyuluh lainnya karena amat patuh. Ia mengisahkan, ada seorang wanita yang positif TB dan kebetulan dia tinggal bersama anak dan keluarga besarnya. Khawatir saat diberi edukasi bahwa orang di sekitar berisiko tertular, si wanita lantas memboyong keluarga besarnya ke RS.

"Ada itu yang anaknya empat dibawa semua. Atau bahkan keluarga besarnya dibawa semua karena mereka satu rumah ada 3 sampai 4 kepala keluarga. Ada yang patuh sekali seperti itu. Kalau begitu pasti ada salah satu keluarga yang tertular memang," kata Valentin.

Memberi edukasi juga terkait dengan kebiasaan mereka sehari-hari. Sebut saja kebiasaan masak di dalam rumah, mengasapi tubuh, bahkan merokok. Lagi-lagi, itu bukan hal yang mudah. Butuh berkali-kali edukasi agar masyarakat paham bahwa apa yang mereka lakukan keliru.

"Apalagi kalau sudah terkait budaya dan adat memang susah sekali. Tapi kita jangan menyerah. Terus beri edukasi perlahan, diarahkan masyarakatnya, butuh waktu berbulan-bulan itu. Memang, tidak gampang seperti yang dibayangkan dan tidak boleh memaksa," pungkas Valentin.

Baca juga: Edukasi Berlapis Bisa Jadi Upaya Agar Pasien TB Tak Drop Out (rdn/up)