Jumat, 07 Apr 2017 12:03 WIB

Seseorang Kesurupan Sampai Meninggal, Benarkah Bisa Terjadi?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Jakarta - Baru-baru ini, seorang mahasiswa di Kupang meningal dunia dan sebelumnya yang bersangkutan disebut sempat kesurupan. Mahasiswa tersebut bernama Fabianus Hale Berre (22). Saat kesurupan, Fabianus dilaporkan berteriak-teriak mengenai jam kematiannya. Dalam pandangan medis, apakah hal ini bisa terjadi?

"Kalau kasusnya sampai meninggal, kemungkinan harus dicek fisiknya. Sebab, gangguan psikiatri tidak ada yang menyebabkan kematian secara langsung. Kecuali karena gangguan psikiatri itu yang bersangkutan bunuh diri," tutur dr Tun Bastaman SpKJ(K) dari RS Jiwa Dharmawangsa saat dihubungi detikHealth, Jumat (7/4/2017).

dr Tun menambahkan, dalam kasus kesurupan yang sampai meninggal, kemungkinan bisa saja ada gangguan otak atau fisik lain. Tapi utamanya otak jika yang bersangkutan sampai hilang kesadaran dan mengamuk.

"Kalau sampai membenturkan badannya, mungkin dia sudah kesakitan, sakit kepalanya banget-banget. Tapi ini kita bicara kemungkinan lho ya. Sebab, yang bisa menyebabkan kematian adalah faktor fisik, misal pada kasus ini gangguan otak atau keracunan zat. Jadi harus ada pemeriksaan sebelum mengambil kesimpulan. Sayangnya tidak dilakukan autopsi," tegas dr Tun.

Ia menambahkan, jika terlalu lelah karena berontak atau dehidrasi, itu umumnya tidak menyebabkan kematian mendadak. Kecuali jika ada penyakit atau kondisi penyerta. dr Tun menegaskan, ketika ada kasus seperti ini, yang didahulukan untuk didiagnosis adalah penyakit organik (fisik) karena ini berhubungan dengan hidup dan mati seseorang.

Baca juga: 10 Jenis Gangguan Jiwa yang Paling Kontroversial

"Baru setelah itu tersingkir, bisa dicari kemungkinan masalah pada psikisnya. Dengan kata lain, kita tegakkan dulu orang ini ada kelainan fisik atu tidak. Khususnya otak, karena otak ibarat CPU kita," kata dr Tun.

Bagaimana orang bisa disebut kesurupan?

dr Tun mengatakan, istilah kesurupan memang dibuat oleh keluarga atau masyarakat. Dulu, secara psikiatri ada istilah culture bound syndrome yang berhubungan dengan kepercayaan secara budaya. Biasanya, itu diterapkan seperti pada kuda lumping (kesurupan intrans).

Dijelaskan dr Tun, pada saat itu biasanya yang bersangkutan kehilangan kesadaran dirinya dan berubah menjadi sosok lain. Nah, ada satu periode saat dia merasa dirinya menjadi seperti orang lain.

"Kayak multiple personality, kepribadian ganda, dia kan menjadi seperti orang lain. Nah pada fenonema kesurupan ini, dia juga tidak menyadari bahwa dia tidak menjadi dirinya," kata dr Tun.

Mengenai seseorang yang tidak menyadari dirinya menjadi sosok lain, dikatakan dr Tun bisa jadi dia karena ada penurunan fungsi otak. Seperti misalnya delirium, yakni gangguan fungsi kesadaran maka disebut seperti kesurupan. Padahal, itu sebagian besar dikarenakan gangguan fungsi otak yang menyebabkan menurunnya fungsi otak yang pada prinsipnya berhubungan dengan hidup matinya seseorang.

Baca juga: Studi: Kecanduan Internet Bisa Berarti Gangguan Mental Lain yang 'Terselubung'

(rdn/vit)