ADVERTISEMENT

Senin, 10 Apr 2017 07:38 WIB

Cinemathoscope

My Name is Khan: Cerita Pasien Sindrom Asperger Perjuangkan Prinsipnya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Halaman 2 dari 4
1 1. Masa kecil
Foto: YouTube

Namanya Rizvan Khan. Ayahnya adalah seorang montir bis. Sejak kecil, ia sering dibawa ayahnya ke bengkel dan dibiarkan bermain seorang diri. Dari situ Rizvan memiliki kemampuan untuk memperbaiki apapun.

Namun Rizvan hanya dibesarkan oleh ibunya, yang memberinya kasih sayang penuh. Ibunya juga mengajarkan banyak nilai kehidupan kepada Rizvan, misal saat perpecahan antara Hindu dan Muslim di India terjadi, sang ibu menjelaskan bahwa hanya ada dua jenis orang di muka bumi, yaitu orang baik dan orang jahat, tidak ada perbedaan lain selain itu.

Rizvan sebenarnya bukan anak yang banyak ulah, bahkan ia sebenarnya cerdas dan cepat belajar. Tapi dengan kondisinya, bocah malang ini di-bully oleh teman-temannya di sekolah. Karena itu, ibunya mengeluarkan Rizvan dari sekolah dan membawanya ke seseorang yang dianggap pintar di desanya.

Pria yang dikenal sebagai Tuan Wadia ini kebetulan juga pengangguran, sehingga ia punya banyak waktu untuk mengajari Rizvan banyak hal. Suatu ketika pekarangan rumah Tuan Wadia tergenang banjir, sehingga ia meminta Rizvan pulang.

Tetapi Rizvan justru punya ide lain. Ia menyambungkan generator dengan selang untuk memompa air di pekarangan itu keluar. Bahan bakar generator itu sendiri berasal dari sepeda yang kemudian dikayuh sekuat tenaga oleh Rizvan. Semua orang yang melihatnya kagum kepadanya, dan sejak saat itu Rizvan sering dimintai tolong oleh tetangga-tetangganya untuk membetulkan banyak hal.

Sang ibu makin bangga kepadanya, tetapi kecintaan ibu pada Rizvan telah mengalihkan perhatiannya dari Zakir, adik Rizvan. Zakir juga sama cerdasnya namun ia merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari sang ibu.

Hingga akhirnya Zakir pergi ke AS di usia 18 tahun karena mendapatkan beasiswa dan menetap disana. Sang ibu sedih, namun Zakir berjanji mengurus kepindahan ibunya dan Rizvan ke AS.

Namun tak berselang lama, ibu mereka meninggal dunia karena pembesaran rongga jantung dan tak ada yang tahu akan hal ini.

Sebelum meninggal, ibu berpesan kepada Rizvan agar ia bisa hidup bahagia. Untuk itu ia memutuskan datang ke rumah adiknya di San Fransisco.

Akhirnya Rizvan bertemu dengan adik iparnya, Hasina. Wanita berhijab ini adalah seorang dosen psikologi. Hasinalah orang pertama yang melihat sesuatu di diri Rizvan dan mengetahui jika pria ini mengidap sindrom Asperger.

Itulah mengapa Rizvan takut bertemu orang-orang baru dan berada di tempat yang baru atau asing baginya. Ia juga benci warna kuning dan suara bising.

Namun dari hasil diskusi dengan pakar dari yayasan autis, Hasina diyakinkan bahwa Rizvan jauh lebih baik daripada orang dengan Asperger pada umumnya, sehingga ia masih bisa berfungsi seperti orang kebanyakan.

Hasina pun mendampingi sang kakak dengan penuh kesabaran. Ia juga mengajari Rizvan caranya menggunakan handycam agar tangannya yang tak bisa diam bisa dialihkan.

Untuk memberinya kegiatan, Zakir kemudian mengajak sang kakak bekerja untuknya. Zakir ternyata seorang pengusaha sukses yang menjual produk kecantikan dari herbal. Rizvan diminta menjual produk-produk itu ke berbagai salon di San Fransisco. Tetapi yang namanya Rizvan, ia menawarkan produk-produk itu dengan penuh kejujuran.

Hingga kemudian Rizvan menemui kesulitan saat harus menyeberang di tengah kota. Kebetulan warna garis penyebarangan di kota itu berwarna kuning. Ketika ia akhirnya memberanikan maju, Rizvan justru terhenti di tengah jalan dan nyaris tertabrak kereta trem karena tak tahan suara bising jalanan.

Tingkah laku Rizvan yang aneh pun membuatnya dikerumuni orang. Untung ada seorang wanita yang membantunya membubarkan kerumunan itu. Rizvan menjadi penasaran.

Wanita itu rupanya bekerja di salon seberang jalan. Agar bisa membuatnya tertarik, Rizvan kemudian menawarkan produknya kepada seluruh pengunjung salon. Wanita yang belakangan diketahui bernama Mandira itu nyatanya juga terkesan kepada Rizvan, meski pria ini jujur mengatakan bahwa dirinya mengidap Asperger.

Sejak itulah Rizvan jatuh hati padanya. Bahkan ia sengaja datang ke salon itu tiap hari hanya untuk bertemu dengannya. Rizvan juga tak segan mengikuti kemanapun Mandira pergi, serta merekam kegiatannya.

Suatu hari Rizvan mendapat kesempatan untuk dipotong rambutnya oleh Mandira. Namun begitu selesai, tiba-tiba ia meminta Mandira untuk menikahinya. Entah karena ia begitu gembira karena dipotong oleh Mandira ataukah memuji hasil potongan rambut Mandira.

Namun perhatian Mandira teralihkan oleh dering ponselnya. Rizvan mencuri dengar di seberang sana ada seseorang bernama Sameer yang memiliki janji temu dengan Mandira. Bahkan di akhir panggilan, Mandira mengatakan ia mencintainya.

Dari informasi yang didapat Rizvan, Sameer adalah anak semata wayang Mandira yang telah bercerai dari suaminya di usia muda. Ia terang-terangan mengatakan hal itu di hadapan Mandira, dan membuatnya tak nyaman. Tetapi Rizvan meyakinkan bahwa ia tetap teguh pada pendiriannya dan meminta Mandira menikahinya.

Setidaknya kini mereka berdua bisa menjadi dekat, termasuk dengan Sameer. Mandira pun semakin luluh hatinya melihat kedekatan Sameer dan Rizvan. Sayangnya Mandira mengabarkan bahwa dirinya akan pindah ke kota lain dan membuka salon sendiri di sana.

(lll/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT