ADVERTISEMENT

Senin, 10 Apr 2017 07:38 WIB

Cinemathoscope

My Name is Khan: Cerita Pasien Sindrom Asperger Perjuangkan Prinsipnya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Halaman 3 dari 4
2 2. Menikahi Mandira
Foto: YouTube

Karena sebuah kejutan, Mandira akhirnya setuju jika Rizvan menikahinya. Namun saat kabar itu diutarakan kepada Zakir, adiknya itu menolak karena Mandira beragama Hindu. Ia bahkan mengancam jika Rizvan nekat melakukannya, maka Zakir akan memutuskan tali persaudaraan di antara mereka.

Tapi Rizvan bersikeras karena ia selalu ingat apa yang diajarkan ibu mereka. Meski begitu, Hasina tetap mau datang ke acara pernikahan dan mendampingi Rizvan, menggantikan Zakir. Setelah itu Mandira bisa membuka salonnya sendiri dan saat itu Rizvan merasa telah memenuhi permintaan ibunya untuk hidup bahagia.

Hingga di suatu pagi, tragedi 9/11 terjadi. Keluarga mereka pun ikut menyumbang untuk korban tragedi tersebut. Mereka juga ikut serta dalam acara doa bersama tetangga-tetangga mereka. Tetapi saat mendengar Rizvan membaca Al Fatihah, beberapa orang mengernyitkan dahinya dan memilih pergi dari acara itu.

Selepas itu di hampir seluruh penjuru Amerika dikabarkan bahwa toko-toko yang dimiliki Muslim dijarah. Orang-orangnya pun dianiaya, termasuk orang India yang dikira Afghanistan atau Pakistan. Guru Sameer pun mengajarkan bahwa Islam adalah agama paling agresif dan akibatnya Sameer di-bully karenanya.

Tak berbeda jauh dengan yang dialami Hasina. Di kampus, tiba-tiba saja ada yang menarik jilbabnya hingga lepas. Pada akhirnya Zakir memperbolehkan Hasina untuk melepas hijabnya untuk sementara waktu. Salon Mandira pun menjadi sepi pengunjung.

Kemudian tetangga dekat Mandira dan Rizvan, Mark ditugaskan untuk meliput perang di Afghanistan. Ironisnya, Mark meninggal dalam tugasnya dan sejak saat itu putra Mark, Reese menjadi benci kepada Sameer. Padahal selama ini keluarga Mark-lah satu-satunya yang percaya bahwa Rizvan dan Mandira tidak ada kaitannya dengan tragedi 9/11.

Meski demikian, Sameer terus mendekati dan mengajak Reese berbaikan karena bagaimanapun Reese adalah satu-satunya sahabat yang dimilikinya. Sayangnya Reese menolak. Teman-teman Reese melihat mereka. Salah satu di antaranya kemudian malah memukul Sameer hingga terjatuh dan mengajak Reese berlalu.

Tetapi Sameer tak gentar. Ia, yang saat itu baru saja latihan sepakbola, melemparkan bola dan mengenai wajah teman Reese. Ia pun tak terima dan berbalik lalu memukuli Sameer lebih keras. Kali ini lebih seperti mengeroyok Sameer kendati Reese telah mencegahnya.

Sameer kemudian bangkit lagi dan mengatai teman-teman Reese sekali lagi. Kemarahan salah satu dari mereka memuncak, dan akhirnya ia pun menendang bola yang ada di dekatnya sekuat tenaga. Tendangan itu mengenai dada Sameer dan ia pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Reese lalu diancam untuk merahasiakan hal itu dan menyeretnya pergi. Akibatnya Sameer terlambat dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia tak berapa lama kemudian, diduga karena pendarahan internal atau limpanya pecah.

Polisi menduga serangan terhadap Sameer merupakan serangan rasial, yaitu karena Sameer seorang Muslim namun mereka kesulitan menemukan pelaku penganiayaan Sameer karena kurangnya bukti dan saksi.

Mandira pun sangat terpukul dengan kepergian Sameer. Pada akhirnya ia merasa telah membunuh Sameer karena menikahi Rizvan. Ia juga meminta Rizvan pergi meninggalkannya. Lalu dengan polosnya, Rizvan bertanya, "Kapan aku harus kembali?"

Antara marah dan sedih, Mandira menjawab bahwa seluruh kota membenci keluarga mereka. "Jadi kenapa tidak kau katakan kepada mereka bahwa kau bukan teroris? Kalau perlu, katakan pada semua orang di Amerika. Katakan kepada Presiden AS. Baru setelah itu kau bisa kembali," jawabnya.

Rizvan tak punya pilihan lain, namun ia paham apa yang dikatakan oleh istrinya walaupun hal itu tidak tercermin dari ekspresinya. Sebelum pergi, ia sempat meninggalkan pesan untuk Mandira dan menyiapkan makanan untuknya.

Rizvan juga sengaja mengenakan sepatu sepakbola Sameer yang baru dibelikannya. Karena tiketnya hangus setelah pemeriksaan yang 'mengerikan' di bandara, Rizvan kemudian melanjutkan perjalanan dari satu kota ke kota lain dengan mengendarai bis.

Ketika uangnya menipis, ia memperlihatkan papan penanda bertuliskan 'Repair Almost Anything' dan mendapatkan bayaran dari situ. Ia kadang menumpang di mobil orang. Suatu ketika Rizvan ingin beristirahat dan menemukan motel di pinggir jalan. Kebetulan pemiliknya adalah orang India.

Saat mereka mengobrol, tiba-tiba ada orang asing yang melempar batu ke jendela motel hingga pecah. Sang pemilik motel tak gentar, bahkan mengeluarkan senapan dan menembaki si pelempar yang sudah berlalu dengan cepat mengendarai mobil.

"Ini semua karena Muslim jahat yang mengebom WTC dan orang-orang Amerika itu buta karena tak bisa membedakan orang India dan Muslim jahat," teriaknya saat itu.

Saking marahnya, ia bahkan sempat berteriak akan memasang tulisan 'No Moslem' di depan motelnya. Ketika mendengar hal itu, Rizvan pun memilih pergi walaupun pemilik motel mencegahnya. Ia kemudian mengatakan, "Namaku Khan dan aku bukan teroris." Saat itulah si pemilik motel terdiam dan menyesali ucapannya.

(lll/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT