Senin, 22 Mei 2017 15:10 WIB

Cinemathoscope

The Immortal Life of Henrietta Lacks: From Zero to Hero

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Halaman 1 dari 5
Foto: YouTube
Jakarta - Nama Henrietta Lacks mungkin tak banyak dikenal orang. Ia juga bukan seorang penemu atau peneliti di bidang medis. Namun tak banyak yang tahu jika ia sangat berjasa bagi dunia kedokteran.

Henrietta hanyalah pasien biasa dari Johns Hopkins Hospital, Maryland. Ia berobat ke sana karena kanker serviks yang dideritanya. Hanya saja saat itu, di tahun 1950-an, peneliti di AS memiliki kebiasaan mengambil sampel jaringan dari pasien tanpa sepengetahuan mereka.

Tak dinyana, sampel jaringan kanker milik Henrietta memiliki keunikan tersendiri. Hal ini diungkap tim dari seorang peneliti bernama Dr George Gey. Ia begitu gembira begitu melihat ke bawah mikroskop, di mana sel Henrietta bisa tetap bertahan hidup meski berada di luar tubuh host-nya sekaligus bisa membelah diri tanpa batas.

Penemuan itu berbuah manis. Tak hanya ketenaran bagi Johns Hopkins dan Dr Gey, tetapi juga harapan baru bagi dunia medis, sebab dengan adanya sel semacam ini berarti peneliti dapat melakukan eksperimen tak terbatas terhadap sel manusia tanpa perlu mengambil sampel lagi.

Sel yang hanya disebut dengan sel HeLa, singkatan dari nama Henrietta, itu kemudian mempelopori berbagai riset untuk pengobatan, semisal dalam pembuatan vaksin polio, atau pengobatan penyakit lain seperti kanker, TBC, herpes, AIDS, hingga parkinson.
The Immortal Life of Henrietta Lacks: From Zero to HeroFoto: YouTube

Lama-kelamaan publik penasaran dengan pemilik sel unik tersebut. Awalnya Dr Gey berniat membuka kepada publik siapa pemilik sampel sel itu sebenarnya, tetapi komite etik di mana dia bekerja melarangnya. Pada akhirnya ketika ditanya wartawan ia menyebut nama lain untuk menjawabnya, yaitu Helen Lane.

Sel ini pun makin dikenal luas, bahkan dikirim ke berbagai laboratorium di seluruh dunia. Sejumlah peneliti lain juga memperjualbelikannya, walaupun sama-sama untuk kepentingan riset.

Namun ternyata di balik ketenaran itu, ada pihak yang dirugikan. Siapa lagi kalau bukan keluarga Henrietta, termasuk suami dan keempat anaknya yang masih hidup.

Akan tetapi keduanya terpecah. Suami Henrietta, David dan dua anaknya yang paling besar: Lawrence dan Sonny merasa mereka diperlakukan tidak adil karena tidak pernah merasakan keuntungan dari sel-sel ibunya yang konon diperjualbelikan.

Sedangkan dua anaknya yang lain, Deborah dan Zakariyya memiliki pendapat yang berbeda. Malangnya, saat Henrietta mulai jatuh sakit dan akhirnya meninggal, usia keduanya masih sangat muda. Tak heran jika yang mereka rasakan hanyalah kerinduan pada sang ibu.

Mereka bahkan tak tahu apa-apa soal Henrietta dan sel-sel yang membuatnya terkenal di kalangan peneliti.

(lll/vit)