Rabu, 24 Mei 2017 14:00 WIB

Sadisnya Aksi Geng Motor di Jagakarsa, Begini Komentar Psikolog

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senjata tajam yang digunakan oleh anggota geng motor sadis (Foto: Lamhot Aritonang) Senjata tajam yang digunakan oleh anggota geng motor sadis (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Polisi meringkus pemuda yang tergabung dalam geng motor pembuat onar di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dengan membawa senjata tajam, para anggota geng motor tersebut menyerang pengendara yang melintas.

"Jadi begini, dalam hasil yang kami lidik, kami insert dalam kegiatan geng motor, awalnya mereka kumpul lima motor, lalu ramai-ramai, dan ini masih kategori anak, usia di bawah 20 tahun, antara 15, 17, sampai 20 tahun. Setelah itu, mereka mengkonsumsi miras," ujar Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Budi Hermanto di Mapolres Jaksel, Jl Wijaya, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (23/5/2017) kemarin.

Dari keterangan polisi didapatkan bahwa sebagian besar anggota geng motor yang ditangkap masih berstatus remaja dan rata-rata berusia di bawah 20 tahun. Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Bona Sardo, MPsi, mengatakan memang pada usia tersebut manusia sedang menjalani proses mencari identitas diri.

Baca juga: Ini Pesan Psikolog untuk Remaja Gaul yang Suka Narsis di Internet

Pencarian identitas diri mulai terjadi sejak akil balig atau puber, dan berlanjut hingga seseorang dewasa secara mental. Mencari identitas diri ini bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas mulai dari mengikuti kegiatan kelompok sampai bergabung dalam komunitas.

"Nah dengan bergabung dalam geng motor dan melakukan penyerangan ini merupakan aktivitas mencari identitas diri, tapi aktivitas yang keliru dan salah. Kok ya mencari identitas diri dengan membahayakan kehidupan orang lain," tutur Bona saat dihubungi detikHealth, Rabu (24/5).

Dalam teori psikologi, setiap fase kehidupan manusia memiliki tugas yang harus diselesaikan. Fase anak-anak misalnya memiliki tugas untuk bermain. Dengan bermain, anak bisa belajar mengenal suara, bentuk dan lingkungan.

Saat remaja, Bona mengatakan tugas seseorang adalah mencari identitas diri. Namun dengan perkembangan otak yang semakin kompleks, pengaruh hormon dan emosi yang labil, maka proses mencari identitas semakin rumit.

"Remaja kan sudah bisa diajak untuk berpikir kompleks. Makanya dalam proses mencari identitas diri, dia akan semakin unjuk diri, unjuk kebolehan, untuk menemukan identitasnya itu," paparnya.

Baca juga: Narsis atau Sosiopat? Aktivitas di Media Sosial Tunjukkan Kepribadian


(mrs/vit)
News Feed