Kamis, 25 Mei 2017 08:22 WIB

Lihat Foto Bom Kampung Melayu Bisa Picu Gangguan Kecemasan Kambuh

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Polisi saat melakukan olah TKP bom Kampung Melayu (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Menyebarkan foto-foto korban bom Kampung Melayu merupakan tindakan yang tidak menghormati keluarga korban. Di sisi lain, penyebaran foto-foto tersebut hanya menambah kepanikan dan ketakutan masyarakat, yang merupakan tujuan pelaku teror.

Saksikan video 20detik tentang Bom Kampung Melayu di sini:


Psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM, mengatakan dampak terbesar dari menyebarkan foto-foto korban bom Kampung Melayu tanpa sensor dirasakan oleh pasien gangguan kecemasan. Dengan melihat foto-foto tersebut, bisa jadi gangguan kecemasan kambuh dan serangan panik menyerang.

"Niat kita mungkin memberitahu bahwa ada kejadian ini di medsos atau whatsapp. Tapi kita tidak tahu apakah di antara teman-teman dan keluarga yang ada di medsos kita ada yang memiliki gangguan kecemasan. Nah, penyakitnya bisa kambuh dengan melihat foto-foto seperti itu," tutur dr Andri kepada detikHealth, Rabu (25/5/2017).

Baca juga: Jangan Sebar Foto Korban Bom Kampung Melayu

Gangguan kecemasan adalah bentuk gangguan jiwa yang membuat pengidapnya mengalami rasa panik dan takut berlebihan. Pada pengidap gangguan kecemasan, rasa panik, cemas dan takut berlebihan ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, bahkan membuat mereka tak bisa berfungsi layaknya manusia normal.

Meski begitu, gangguan kecemasan bisa ditangani dengan terapi dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter jiwa. Namun ada beberapa hal yang dapat membuat pasien gangguan kecemasan yang terkontrol pun bisa kambuh setelah melihat foto-foto korban bom Kampung Melayu.

Dijelaskan dr Andri, gangguan kecemasan bisa kambuh karena bom Kampung Melayu terjadi di tempat umum dan menyerang aparat kepolisian. Bagi orang yang mengidap gangguan kecemasan, hal ini bisa membuat mereka merasa terancam dan tak aman, meskipun lokasinya jauh dari tempat tinggal.

"Bayangkan ini terjadinya di tempat umum, dan kita saja merasa tidak nyaman. Aparat saja jadi sasaran, apalagi kita masyarakat sipil. Itulah yang ada di benak pasien gangguan kecemasan, dan apa yang diharapkan oleh teroris dari kejadian ini," tutup dokter yang aktif di twitter dengan akun @mbahndi ini.

Baca juga: Januari: Jakarta Diteror Bom dan Dampaknya bagi Psikis serta Fisik

(mrs/vit)