Minggu, 11 Jun 2017 10:27 WIB

Ereksi Berjam-jam Pasca Operasi, Diduga Karena Pengaruh Obat Bius

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Ereksi yang berlarut-larut dan menyakitkan adalah gejala priapisme (Foto: thinkstock)
Jakarta - Seorang pasien pria diarahkan untuk menjalani operasi karena kanker usus yang diidapnya. Prosedur yang diberikan kepadanya adalah 'right hemicolectomy' di mana tim dokter mengambil usus di bagian kanan tubuhnya lalu memasangkan usus kecil sebagai gantinya.

Prosedur ini dinyatakan berhasil dan si pasien diprediksi akan pulih dalam waktu singkat.

Namun belakangan muncul masalah. Pria ini mengalami ereksi yang menyakitkan selama berjam-jam. Demikian seperti dilaporkan BMJ Case Reports dan dikutip dari Men's Health, Sabtu (10/6/2017).

Hanya saja pria yang diketahui berusia 58 tahun itu sengaja tidak memberitahukannya kepada tim dokter. Barulah keesokan harinya ia meminta bantuan salah seorang dokter yang merawatnya untuk mengecek kondisi tersebut.

Saat itu dilaporkan penis pria ini sudah membengkak, dan dalam jurnal digambarkan bentuknya seperti 'jam pasir'.

Baca juga: Dioperasi Dokter Tak Berlisensi, Penis Pria Ini Hanya Tinggal 2,5 Cm

Ahli urologi kemudian mendiagnosis pria itu dengan priapisme, sebuah kondisi di mana penis seorang pria mengalami ereksi yang menyakitkan dan berkepanjangan tanpa adanya rangsangan seksual.

Setelah diselidiki, nampaknya pemicunya adalah aliran darah yang terperangkap di sekitar organ reproduksi si pasien. Untungnya menurut dokter, bila ini penyebabnya maka priapisme yang dialami si pasien tidaklah membahayakan.

48 Jam kemudian, tim dokter memutuskan memasangkan sebuah alat ke dalam penis si pasien untuk membantu memperlancar aliran darahnya. Sempat pulih, keesokan harinya penis si pasien kembali mengalami ereksi. Tim dokter lantas menyuntikkan sebuah obat yang disebut phenylephrine ke dalam penisnya.

Priapisme atau ereksi tanpa henti bisa dipicu oleh aliran darah yang tersumbatPriapisme atau ereksi tanpa henti bisa dipicu oleh aliran darah yang tersumbat (Foto: Thinkstock)


Karena tak kunjung ditangani, pria ini terpaksa mengalami disfungsi ereksi. Beruntung enam bulan kemudian, kondisi tersebut dapat teratasi oleh pengobatan.

Baca juga: Penis Terasa Sakit Saat Ereksi? Eit, Jangan Diurut Ya

Lantas bagaimana priapisme bisa terjadi pada pasien pasca operasi? Tim peneliti tidak menuding prosedur operasi sebagai penyebab priapisme pada pasien yang tidak diketahui identitasnya ini, melainkan pada obat bius berjenis propofol yang digunakan saat operasi. Obat ini diklaim dapat mempengaruhi otot yang berperan dalam memicu ereksi.

Terlepas dari itu, pakar berpesan bahwa priapisme bisa saja terjadi sebagai efek samping dari penggunaan obat kuat atau obat untuk disfungsi ereksi, meski tergolong langka.

Yang pasti, bila ini terjadi, priapisme harus mendapatkan penanganan secepatnya. "Lain kali jika Anda mengalami ereksi selama empat jam lebih, saatnya Anda segera berlari ke IGD," pesan Daniel Williams, IV, MD dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health.

Jika tidak, akan muncul jaringan parut pada penis dan akibatnya Anda akan kehilangan kemampuan ereksi di masa depan. (lll/up)