ADVERTISEMENT

Rabu, 19 Jul 2017 07:37 WIB

Dari Film Hingga Suasana Politik Indonesia Disebut Bisa Picu Bullying

Firdaus Anwar - detikHealth
Apa yang membuat pelaku bullying melakukan perbuatannya? Menurut psikolog karena dirinya sudah terbiasa dengan perilaku kekerasan yang ada di lingkungan. (Foto: ilustrasi/detikcom)
Jakarta - Kasus bullying atau perundungan yang terjadi belakangan seolah-olah menyadarkan berbagai pihak bahwa hal ini masih menjadi masalah di Indonesia. Psikolog berkomentar penyebabnya bisa bermacam-macam namun pada intinya bullying terjadi karena ada 'pergeseran' norma sosial yang terjadi pada anak-anak.

Psikolog peneliti bullying Dra Ratna Djuwita, Dipl, Psych, mengatakan para pelaku bullying biasanya merasa apa yang ia lakukan sebagai suatu hal normal karena terbiasa melihatnya di lingkungan sekitar. Pelaku tidak menyadari kerugian seperti apa yang dapat ia timbulkan pada korbannya.

"Dia (pelaku bullying -red) punya norma-norma tentang kekerasan yang kita anggap masyarakat secara umum itu bukan sesuatu yang positif. Dia terbiasa saja dengan kekerasan," kata Ratna ketika ditemui detikHealth pada Selasa (18/7/2017).

Baca juga: Pelaku Ngaku Tak Bermaksud Bully Farhan, Hanya Bercanda

Paparan terhadap kekerasan tersebut menurut Ratna bisa datang dari mana saja sebagai contoh dari keluarga, teman sepermainan, film, game, dan bahkan bisa juga termasuk kondisi politik Indonesia yang memang sedang memanas.

"Situasi politik kita kan mereka bisa lihat kita saling mengejek. Itu sudah biasa kan? Di acara-acara televisi, di film, bahkan dalam dunia nyata itu terjadi. Kalau tidak ada yang mengcounter mengatakan 'ini sebetulnya tidak baik'... dalam jangka waktu lama akan tertanam dalam diri," papar dosen pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Lawan Bullying! Jangan Cuma Ditonton

Menurut Ratna sekarang yang paling penting adalah agar masyarakat mau bertindak bergerak tidak mendiamkan bila melihat perilaku bullying. Karena bila didiamkan maka secara tidak langsung berarti mendukung akan memperburuk kasus bullying.

"Yang paling penting sebetulnya ketika masyarakat itu, orang-orang mulai bersikap dan menunjukkan sikapnya bahwa mereka tidak setuju," pungkas Ratna.

Baca juga: Marak Kasus Bullying, Dokter Jiwa: Harus Jadi Perhatian Serius

(fds/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT