Selasa, 25 Jul 2017 16:18 WIB

Seberapa Bahaya Tercemar Polusi Udara? Ini Kata Dokter Paru

Widiya Wiyanti - detikHealth
Polusi udara dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan, seperti asma dan kanker paru. Foto: Ari Saputra Polusi udara dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan, seperti asma dan kanker paru. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Polusi udara memang tidak menyehatkan, apalagi di perkotaan besar seperti di Jakarta ini. Menurut Air Quality Index Report dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, Jakarta menjadi kota ke empat dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) terbesar se-Asia Tenggara, dan diikuti kota Bandung di urutan ke lima.

Sedangkan data yang dilihat dari Badan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa hanya terdapat 70-80 hari setiap tahun udara di kota Jakarta dinyatakan benar-benar sehat.

Apa yang terjadi dengan tubuh kita jika tercemar polusi udara terus-menerus? Dokter spesialis paru dari Divisi Paru Kerja dan Lingkungan, Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Persahabatan, Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR menuturkan bahwa akan terjadi penyakit paru kronik yang berbahaya.

Baca juga: Masih Sering Salah, Begini Cara yang Benar Pakai Masker Polusi

"Polusi udara itu ada dua, polusi di dalam ruangan dan polusi di luar ruangan. Sebenarnya di dalam ruangan juga ada poolusi tapi yang lebih banyak polusi di luar ruangan," ujarnya ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (25/7/2017).

Menurutnya, polusi mengandung gas dan partikel. Gas yang dimaksud ada yang bersifat afiksia, yaitu jika dihirup dalam jumlah besar maka akan menyebabkan sesak napas.

"Misalnya CO, karbon monoksida. Kalau CO itu masuk ke tubuh kita dalam jumalah besar, maka CO itu akan berikatan dengan hemoglobin (Hb). Ketika CO terhirup, oksigen nggak bisa terikat oleh Hb (hemoglobin), akibatnya dalam darah kekurangan oksigen, itu makanya kalau kita sering terkena polusi yang paling simpel itu sakit kepala, migrain," jelas dr Agus.

Ada pula gas yang bersifat iritan, yaitu dapat menyebabkan iritasi pada sepanjang saluran pernapasan yang dilewati oleh gas-gas tersebut. Contohnya gas nitrit dioksida, sulfur dioksida, dan gas lainnya.

"Kalau kita hirup akan timbul gejala bersin-bersin, hidung berair, mata berair, itu kan iritatik proses dari gas tersebut. Kalau ke tenggorokan, tenggorokan jadi panas, gatel, berdahak, batuk-batuk, sesak lanjutannya," imbuhnya.

Baca juga: Soal Kualitas Udara Jakarta Saat Mudik, Ini Tanggapan Kemenkes

Selain gas, ada juga partikel pada polusi. Partikel juga sebagian besar bersifat iritan, yang dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan iritasi.

"Orang yang iritasi terus-terusan oleh bahan seperti tadi, maka saluran napasnya akan hipersensitif. Maka akan terjadi risiko seperti penurunan fungsi paru, fungsi paru menurunnya akan lebih cepat dibanding orang dengan udara yang lebih baik seperti di pengunungan," ujar dr Agus.

dr Agus juga menambahkan bahwa dampak dari tercemarnya polusi bukan hanya terjadi gangguan pada saluran pernapasan seperti asma dan kanker paru, tetapi juga bisa menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa polusi bisa menjadi faktor kematian dini.

Baca juga: Rokok Menyebabkan Kanker Paru, Dokter: Stop Merokok!

(wdw/up)
News Feed