Kamis, 27 Jul 2017 15:30 WIB

Tuntutan Pasien Hepatitis C: Sediakan Obat yang Lebih Terjangkau

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Hepatitis C membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Foto: Thinkstock
Jakarta - Sejumlah LSM mulai dari Indonesia AIDS Coalition (IAC), Gempita, Koalisi Obat Murah dan lainnya berkumpul di depan kantor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Kamis (27/7/2017), Salemba, Jakarta. Aksi ini menuntut adanya peresmian obat dari golongan Direct Acting Antiviral (DAA) yang dibanderol dengan harga lebih murah.

"Kita tidak dapat terus kehilangan nyawa karena penyakit ini," ujar Aditya Wardhana, Direktur dari IAC.

Selama beberapa dekade terakhir, pengobatan hepatitis C di Indonesia menggunakan kombinasi gabungan dari Interferon dan Ribavirin selama 48 minggu pengobatan. Akan tetapi, pengobatan ini memberikan efek samping mulai dari sakit kepala, nyeri otot hingga yang berat seperti anemia hingga depresi.

Baca Juga: Curhat Pasien Hepatitis C di Indonesia: Obat Mahal dan Peredaran Terbatas

Kedua jenis obat ini pun hanya memiliki tingkat keberhasilan kesembuhan sekitar 45 persen. Bila dibandingkan dengan obat golongan DAA, tentunya sangat jauh berbeda karena mencapai persentase kesembuhan sebanyak 95 persen.

"Sampai saat ini, beberapa perusahaan telah mendaftarkan obat-obatan antivirus seperti Daclatasvir dan Velpatasvir untuk semua jenis genotipe virus sehingga memudahkan pasien untuk mengakses pengobatan dan mengurangi beban biaya," ungkap Edo Agustian, Koordinator Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia.

Kini, mereka menantikan adanya peresmian dari pendaftaraan kedua jenis obat itu sehingga bisa digunakan untuk pasien dengan hepatitis C. Mereka pun mengaku akan kembali melakukan aksi apabila hingga awal Agustus belum ada jawaban yang resmi atas penantian mereka.

Baca Juga: Kenali! Ini Bedanya Hepatitis A, B, C, D dan E
(fds/fds)