Jumat, 15 Sep 2017 14:37 WIB

Dikaitkan dengan Narkoba Flakka, Begini Cara Kerja Obat PCC

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Flakka dan PCC punya cara kerja yang cukup berbeda di dalam otak. Foto: (Sitti Harlina/detikcom)
Jakarta - Penyalahgunaan obat PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara, memicu respon luas masyarakat. Ada yang bahkan menyamakan obat PCC ini dengan narkoba Flakka karena bisa sama-sama membuat pemakainnya agresif.

Menjawab mengenai kabar tersebut, detikHealth menghubungi dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN), Jumat (15/9/2017).

dr Hari menjelaskan bahwa keduanya jelas berbeda. Flakka sendiri adalah alpha PVP yakni sebuah katinon sintesis atau suatu zat yang bersifat sebagai stimulan kuat memengaruhi secara langsung jalur dopamin dan serotonin di dalam otak. Serotonin dan dopamin sendiri merupakan hormon yang memicu rasa senang dan nyaman.

Baca juga: Narkoba Flakka Kembali Viral di Medsos, Bisa Bikin Orang Jadi Zombie?

"Dopamin yang beredar dalam otak menjadi sangat banyak dan terjadi sebuah euforia yang kuat, juga tanda atau gejala gangguan jiwa terutama bagi orang yang sudah mengalami kecanduan," jelasnya.

Sedangan kandungan carisoprodol atau karisoprodol pada obat PCC efek utamanya lebih pada pelemas otot yang tegang dan bertindak sebagai anti depresan. Jika flakka secara langsung mempengaruhi jalur dopamin, PCC justru bekerja di neurotransmitter GABA (Gamma Amino Butiric Acid) yang pada ujungnya memang bisa juga memengaruhi jalur dopamin.

"Gejala gangguan jiwa yang terjadi seperti halusinasi atau delirium karena intoksikasi carisoprodol ini akan terjadi. Juga pada pemakaian yang dicampur dengan zat lain misalnya opioid atau benzodiazepine," pungkas dr Hari.

Baca juga: Begini Cara Kerja Obat PCC Sampai Buat Remaja di Kendari Lari ke Laut (ajg/fds)