Rabu, 25 Okt 2017 16:07 WIB

Deteksi Dini Skoliosis Bisa Dilakukan Sendiri, Begini Caranya

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Deteksi dini skoliosis bisa dilakukan dengan membungkuk. Foto: ilustrasi/thinkstock Deteksi dini skoliosis bisa dilakukan dengan membungkuk. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Skoliosis belum mendapatkan perhatian khusus bagi kebanyakan orang, padahal dari beberapa kasus yang ada di Indonesia cukup banyak orang yang mengidapnya khususnya kaum perempuan dengan perbandingan 9:1 dengan pasien laki-laki.

Untuk mendeteksi dini, dr Didik Librianto SpOT (K) Spine dari Rumah Sakit Pondok Indah Group, Rabu (25/10/2017) saat acara temu media menjelaskan cara mudahnya. Pertama-tama yang harus Anda lakukan adalah membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut dengan tangan sejajar. Lalu minta bantuan orang lain untuk meraba area punggung Anda.

"Dirasakan, simetris ga? Kalau ditemukan benjolan, segera periksakan lewat x-ray untuk menentukan besarnya sudut," ujar dokter yang tergabung dalam Cervical Spine Research Society tersebut.

Baca juga: Mengenal Skoliosis, Kelainan Tulang Belakang yang Banyak Menyerang Remaja

Dengan deteksi dini, risiko progresivitas atau pertambahan derajat pada skoliosis dengan derajat rendah dapat dicegah. Tingkat kebutuhan operasi juga, bisa menurun karena tata laksana pemasangan brace (apabila masih 20-40 derajat).

Di Amerika dan Eropa sendiri, program deteksi dini skoliosis sudah gencar dilaksanakan. Para pelajar dikisaran umur 10-14 tahun akan melewati pemeriksaab setahun sekali selama 3 tahun atau sebelum masuk usia dewasa atau di atas 18 tahun.

Sebab, setelah masuk fase dewasa progres yang dialami oleh pasien skoliosis yang masih tahap awal biasanya akan terhenti mengingat pertumbuhan tulangnya sudah sempurna. Meskipun ada penelitian yang menyebutkan mungkin saja ada pertambahan derajat setelah 10-15 tahun, peningkatan yang terjadi pun hanya sekitar 1 derajat.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Skoliosis (ajg/up)