Jumat, 08 Des 2017 19:33 WIB

Studi Sebut Usaha Manusia untuk Bertahan Hidup Sudah Melampaui Batas

Hanna Pratiwi - detikHealth
Foto: REUTERS Foto: REUTERS
Jakarta - Peneliti telah menemukan perubahan lingkungan, termasuk iklim, mungkin telah menyebabkan manusia mencapai batas masa hidupnya. Meskipun ada cerita bahwa setiap keturunan kita akan hidup lebih lama, tetap saja para peneliti menyarankan bahwa ada ambang batas maksimum untuk batas biologis kita yang tidak dapat dicapai.

Sebuah studi asal Perancis, meneliti 120 informasi sejarah yang mengungkapkan bahwa keterbatasan biologis mungkin dipengaruhi oleh dampak antropogenik (polusi udara yang diakibatkan perbuatan manusia) terhadap lingkungan. Termasuk perubahan iklim yang dapat berdampak buruk pada daerah masing-masing.

"Penurunan kapasitas manusia saat ini yang dapat kita lihat adalah pertanda adanya perubahan lingkungan. Termasuk iklim, sudah berkontribusi pada penghambatan yang harus kita pertimbangkan," kata Jean-Fran├žois Toussaint, Profesor di Paris Descartes University di Perancis, seperti yang dikutip dari laman Indian Express.

Baca juga: Kondisi Lingkungan yang Bisa Meningkatkan Kemampuan Otak

Peneliti menjelaskan, misalnya, tinggi badan manusia telah menurun dalam dekade terakhir di beberapa negara Afrika, ini menunjukkan bahwa beberapa penduduk disana tidak lagi bisa memberikan nutrisi yang cukup untuk setiap anak mereka dan menjaga kesehatan penduduknya yang lebih muda.

"Ciri-ciri ini tidak lagi bertambah, meski terus mengalami kemajuan nutrisi, medis, dan ilmiah yang tak ada hentinya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat di era ini telah membiarkan manusia lain melebihi batas keturunannya. Kami adalah generasi pertama yang sadar akan hal ini," Toussaint menambahkan.

Jadi, daripada terus-menerus memperbarui usaha untuk hidup, Toussaint lebih menyarankan untuk mengikuti usaha bertahan hidup yang telah dilakukan generasi sebelumnya.

"Ini akan menjadi salah satu tantangan terbesar abad ini karena tekanan tambahan dari aktivitas antropogenik akan merusak efek kesehatan manusia dan lingkungan," kata Toussaint, di koran tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology.

Para peneliti berharap temuan mereka akan mendorong pembuat kebijakan agar berfokus pada strategi meningkatkan kualitas hidup dan memaksimalkan populasi yang dapat mencapai batas maksimum.

Baca juga: Kehidupan Manusia Modern, BAB Lebih Lama dibanding Olahraga? (up/up)
News Feed