Minggu, 10 Des 2017 09:08 WIB

Gangguan Denyut Jantung Hantui Para Atlet Triathlon

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Olahraga yang terlalu berat tidak baik untuk kesehatan jantung. (Foto: Keith MacIntosh/Untamed Borders) Olahraga yang terlalu berat tidak baik untuk kesehatan jantung. (Foto: Keith MacIntosh/Untamed Borders)
Jakarta - Triathlon, kontes olahraga yang menggabungkan lari, berenang, dan bersepada dalam satu perlombaan dinilai memiliki dampak buruk bagi jantung. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asal Inggris.

Profesor Mark Boyett dari British Heart Foundation menemukan bahwa para atlet triathlon rentan mengalami aritmia, yakni gangguan denyut jantung yang menyebabkan jantung berdenyut tidak beraturan. Meski cenderung tidak berbahaya, jika tidak ditangani maka gangguan ini dapat menyebabkan serangan jantung.

Baca juga: Hipoksia dan Kaitannya dengan Kematian Kiper Choirul Huda

Gangguan denyut jantung tersebut bisa berupa denyut menjadi lebih cepat ataupun menjadi lebih lambat. Penelitian yang dilakukan British Heart Foundation menemukan bahwa denyut jantung setelah berolahraga dalam waktu lama dengan intensitas berat cenderung mengalami gangguan.

Hal ini dikarenakan oleh adanya perubahan molekul pada jantung yang membuat detak jantung cenderung menjadi lebih lambat. Biasanya, denyut jantung orang dewasa normal adalah 60-100 denyut per menit.

Namun pada atlit triathlon dan maraton, diketahui bahwa denyut jantung mereka ketika istirahat ada di angka 30 per menit. Semakin tua usia atlet, semakin rendah pula denyut jantungnya.

Meski begitu, Prof Boyett mengatakan bahwa penelitiannya tidak menyebut atlet berusia tua tidak boleh melakukan triathlon atau marathon. Menurutnya, pemasangan alat pacu jantung yang berfungsi baik dapat membuat risiko gangguan denyut jantung berkurang.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Para atlet hanya perlu diberikan alat pembantu denyut jantung agar jantung mereka sehat. Yang bisa dipastikan adalah tubuh mereka tentunya tetap dalam keadaan sehat dan bugar," ujarnya dikutip dari BBC.

Baca juga: Bukan Cuma Jantung Berdebar, Detak Jantung yang Melambat Juga Tidak Normal

(mrs/up)
News Feed