Selasa, 12 Des 2017 14:05 WIB

Saran Psikolog Jika Menemui Aksi Pelecehan Seksual di KRL

Suherni Sulaeman - detikHealth
Saran psikolog jika menemui aksi pelecehan seksual di KRL/Foto: Rengga Sancaya Saran psikolog jika menemui aksi pelecehan seksual di KRL/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Kasus pelecehan seksual terhadap wanita di KRL Commuter Line Jabodetabek masih kerap terjadi. Baru-baru ini ada seorang perempuan yang menemukan kasus tersebut kemudian curhat di media sosial dan menjadi viral.

Dikutip dari detikNews, perempuan tersebut tak menyangka KRL yang sering ia gunakan menjadi tempat menyeramkan baginya. Ia menyaksikan secara langsung perbuatan tidak senonoh yang membuat dirinya takut dan panik.

Ia menggambarkan kondisi kereta saat itu penuh dan sesak. Ia pun masuk dan berdiri di bagian tengah gerbong. Begitu kereta masuk ke stasiun Cikini, di situlah ia bertemu dengan pelaku. Pelaku digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Dia perlahan pindah dari posisinya.

"Tatapannya tajem banget kayak penjahat dan gue udah semakin curiga dan takut. Pas di Manggarai makin banyak dong orang masuk, semakin desek-desekan dan nggak bisa gerak lagi. Kejadiannya pas banget jam 19.01 WIB, gue refleks lihat ke bawah (arah kaki dia) and you know what did he do? Dia ngeluarin anu-nya dan asyik mainin terus ngegesek anunya di bokong mbak-mbak di depan dia yang lagi sibuk main hp dan dengerin musik," tulis perempuan tersebut.

Melihat aksi pelaku, ia merasa ketakutan. Pasalnya, si pelaku pelecehan tersebut terus-terusan menatap dirinya. Sambil ketakutan, ia langsung menelepon sang ayah. Dia juga mencoba meminta bantuan kepada penumpang yang berada di sebelahnya, namun ternyata penumpang tersebut pun takut.

"Dia (pelaku) semakin ngeliatin gue karena dia sadar kalau gue tahu dia lagi ngelakuin pelecehan seksual. Gue deg-degan, lemes dan mau nangis. Bokap gue video call dan disuruh tunjukin mukanya dia ke arah bokap gue. Dia megang tangan gue kencang banget dan dicakar. Di situ gue langsung ngelawan dan memberanikan ngelihatin mas-mas ini secara sinis," tuturnya.

Baca juga: Takut dan Paniknya Saksi Saat Lihat Pelecehan Seksual di KRL

Saran Psikolog Jika Menemui Aksi Pelecehan Seksual di KRLIlustrasi stasiun kereta api yang kerap menjadi tempat pelecehan seksual/Foto: istimewa


Belajar dari kejadian tersebut, meskipun dalam keadaan yang ramai, terkadang korban maupun yang melihat aksi pencabulan memang tidak lantas berteriak dan cenderung takut.

Dihubungi detikHealth, menurut psikolog klinis dewasa, Christina Tedja, M.Psi, Psikolog, atau yang akrab disapa Tina, alasan mengapa korban tidak berteriak umumnya karena takut atau bisa jadi tidak menyadari aksi tersebut. Namun, ia menyarankan untuk tidak takut berteriak dan meminta tolong orang sekitar.

"Jangan takut berteriak untuk meminta tolong jika terjadi apa-apa. Mencari bantuan orang sekitar," ujar Tina.

Psikolog yang berpraktik di Ciputra Medical Center, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, juga mengatakan bahwa tindakan ideal yang seharusnya dilakukan pada saat kejadian adalah dengan meyadarkan korban, kemudian bergerak jauh dari pelaku.

"Mencari posisi aman yang berdekatan dengan petugas atau setidaknya bergerak menjauh (mendekati pintu).

Saran Psikolog Jika Menemui Aksi Pelecehan Seksual di KRLIlustrasi suasana di dalam KRL. Jika menemui kasus pelecehan seksual sebaiknya berteriak dan segera meminta pertolongan/Foto: indra


Baca juga: Viral Cerita Menegangkan Penumpang Lihat Pelecehan Seksual di KRL

(hrn/up)
News Feed