Kamis, 21 Des 2017 07:47 WIB

Pakar Sebut Kecanduan Selfie Belum Termasuk Gangguan Jiwa

Suherni Sulaeman - detikHealth
Pakar sebut kecanduan selfie belum bisa disebut gangguan jiwa. Foto: Thinkstock
Jakarta - Beberapa waktu lalu muncul kabar bahwa American Psychiatric Association mempertimbangkan akan memasukkan kecanduan selfie sebagai sebuah gangguan mental.

Meski belakangan disebut hoax, namun peneliti gabungan dari Inggris dan India mengaku berhasil membuktikannya lewat sebuah survei.

Akan tetapi pakar kesehatan jiwa, dr Andri SpKJ, FAPM mengaku kurang sepakat dengan hasil studi tersebut. Ia berpatokan pada 'kitab suci' gangguan jiwa yang disebut dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) V.

"Saya sih berpegangnya pada DSM-V. Sampai saat ini 'propose' tentang selfie itu tidak masuk, jadi nggak ada kategori diagnostik selfitis," ungkapnya saat dihubungi detikHealth.

Baca juga: Selfitis: Kalau Nggak Selfie, Nggak Afdol

Menurutnya, tak masalah bila seseorang melakukan selfie sebanyak yang ia mau, bahkan hingga 4-5 kali dalam sehari.

"Ya kalau dia memang istilahnya buat cari uang, karena kan banyak orang selfie buat cari uang yang jadi selebgram atau apa itu sih namanya bukan gangguan jiwa dong," urai psikiater yang berpraktik di RS Omni Alam Sutra tersebut.

Selain itu, seseorang yang melakukan selfie seperti ini memiliki kejelasan maksud dan tujuan, sehingga tidak bisa dikait-kaitkan dengan gangguan jiwa begitu saja hanya karena melakukan selfie berulang kali dalam sehari.

Baca juga: 5 Macam Gangguan Jiwa yang Bermula dari Foto Selfie

Ditambahkan dr Andri, boleh-boleh saja melakukan penelitian mengenai perilaku manusia. Akan tetapi bukan berarti harus selalu dikaitkan dengan masalah gangguan kejiwaan.

"Yang paling penting adalah bagaimana kehidupannya, bagaimana kondisi di dalam kesehariannya, apakah terganggu akibat dari hal tersebut. Jadi perlu didalami lagi," tegasnya. (hrn/up)