Minggu, 28 Jan 2018 15:31 WIB

Mengenal Sindrom Savant yang Dikaitkan dengan Windi si Jago Gambar

Suherni Sulaeman - detikHealth
Foto: Uyung/detikHealth
Jakarta - Seorang perempuan bernama Windi belakangan tengah menjadi perbincangan di media sosial. Bocah asal Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah ini disebut-sebut memiliki kecerdasan di bawah normal dan hanya bersekolah sampai kelas 3 sekolah dasar (SD), tetapi memiliki bakat khusus atau kemampuan istimewa dalam menggambar.

Banyak netizen yang mengatakan bahwa guratan yang dihasilkan Windi sangatlah bagus. Sehingga tak sedikit yang menyebut Windi mengidap sindrom savant.

Dikutip dari situs psy.dmu.ac.uk, sindrom savant pertama kali dikenalkan oleh seorang dokter, yakni J Langdon Down. Istilah ini ia ciptakan pada tahun 1887 yang berasal dari bahasa Prancis savior yang artinya mengetahui.

Baca juga: Mengunjungi Windi, Gadis Difabel Yang Ingin Jadi Perancang Busana

Umumnya, anak-anak dengan sindrom savant ini ditandai dengan beberapa ketidakmampuan fisik atau mental, namun memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bidang tertentu. Keterampilan savant dapat terjadi di bidang yang berbeda, seperti misalnya musik, seni visual, dan juga matematika.

Baca juga: Studi: Orang yang Terlahir Cerdas Cenderung Lebih Sehat

Hal ini rupanya juga membuat seorang profesor klinis dari University of Wisconsin Medical School, Dr Darold Treffert mencari tahu bagaimana orang-orang dengan kondisi tersebut mampu menunjukkan prestasi luar biasa.

Dalam jurnalnya yang bertajuk 'Savant Syndrome: An Extraordinary Condition', Treffert menulis ada beberapa hal yang dapat diketahui mengenai keajaiban anak savant syndrome, salah satunya ialah pengidap savant syndrome memiliki daya ingat yang luar biasa. Selain itu, keterampilan yang dimiliki savant syndrome biasanya tidak bisa hilang dan jika terus dilatih dan digunakan akan terus meningkat.

Kendati demikian, hingga sekarang belum ada teori yang dapat menjelaskan tentang savant syndrome secara pasti. "Saya telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa jika kita dapat menjelaskan tentang savant syndrome maka kita tidak akan bisa menjelaskan tentang diri kita sendiri," tandas Treffert.

Baca juga: Pedoman untuk Bikin Anak Cerdas

(hrn/up)