Minggu, 11 Mar 2018 13:10 WIB

Kata Tompi Soal Tren Filler dan Tanam Benang Biar Hidung Lebih Mancung

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Demi tampak lebih cantik dan membuat wajah sesuai dengan apa yang diinginkan, banyak wanita dan pria yang kini rela melakukan beberapa prosedur estetik. Foto: thinkstock Demi tampak lebih cantik dan membuat wajah sesuai dengan apa yang diinginkan, banyak wanita dan pria yang kini rela melakukan beberapa prosedur estetik. Foto: thinkstock
Jakarta - Di zaman milenial seperti ini, tuntutan untuk tampil cantik dan sehat adalah nomor satu bagi semua orang. Berbanding lurus dengan pola makan dan hidup sehat, ada juga yang melakukan operasi plastik.

Tren kekinian yang sedang maraknya praktik estetika di kalangan anak zaman now seperti suntik filler dan tanam benang di hidung. Biasanya mereka ingin hidungnya terlihat lebih mancung.

Selain itu, prosedur suntik filler dan tanam benang hidung bisa dilakukan oleh banyak orang, banyak klinik bedah plastik hingga salon kecantikan yang menawarkan 'perawatan' tersebut.

Alasan di atas adalah yang mendasari mengapa Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI) merasa perlu mengeluarkan pernyataan bahwa kedua prosedur tersebut tidaklah aman, dengan catatan jika dilakukan secara berlebihan.

dr Teuku Adifitrian, Sp.Bp, atau yang kerap kita panggil dengan dr Tompi, menjelaskan bahwa berlebihan tersebut maksudnya misal menyuntik filler lebih dari 2 cc.

"Filler dengan Hyaluronic Acid itu aman, tapi jika dalam jumlah tertentu," kata dr Tompi saat ditemui di acara konferensi pers mengenai maraknya penggunaan threadlift atau filler di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3/2018). "Penggunaan dalam jumlah besar, apalagi penempatan yang tidak tepat, indikasinya nggak sesuai itu yang jadi masalah."

Beberapa waktu lalu dr Tompi membagikan sebuah video di Instagramnya berjudul DON'T DO THIS TO YOUR NOSE mengenai akibat dari penggunaan filler dan tanam benang di hidung. Ia merasa bahwa kini praktiknya semakin salah kaprah. Menurutnya, kerusakan seperti itu biasanya terjadi karena suntik filler maupun tanam benang dilakukan sembarangan oleh pihak-pihak yang tidak punya kompetensi untuk melakukannya.


Filler, menurut dr Tompi, merupakan salah satu proses estetik yang menggunakan prosedur suntik. Cairan yang digunakan biasanya menggunakan hyaluronic acid atau bahan alami dari tubuh seperti lemak atau PRP yang dibekukan atau direbus.

"Filler itu kan terminologi umum ya, pengisi ya. Jadi kalo mau ngisi cekungan hidung nggak apa apa tapi yang jelas bukan ninggiin," lanjut dr Tompi.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan jurnal kedokteran, tidak ada jurnal yang menjelaskan bahwa filler dan tanam benang bisa digunakan untuk meninggikan hidung.

"Analoginya kayak mau bangun rumah, kalo mau bikin rumah 10 lantai ya rangkanya yang 10 lantai bukan semennya yang 10 lantai. Kan filler kayak penggunaan semen, gitu," tandasnya.

[Gambas:Video 20detik]




(up/up)
News Feed