Rabu, 28 Mar 2018 17:15 WIB

Sepertiga Anak Indonesia Stunting, Tak Semua dari Keluarga Miskin

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Wapres JK kampanye cegah stunting. (Noval Dhwinuari Antony/detikcom).
Jakarta - Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) di tahun 2013, prevalensi stunting atau anak kerdil di Indonesia mencapai 39 persen dan turun menjadi 29 persen pada 2017, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019. Ironisnya, angka 29 persen tersebut justru terjadi cukup banyak pada keluarga berekonomi baik. Diperkirakan, ini karena edukasi yang kurang kepada para orang tua.

"Satu fakta, stunting itu memang dipengaruhi kemiskinan tapi tidak identik dengan kemiskinan. Artinya tidak semua stunting dari orang miskin. Ada kasusnya, jadi ada problem dari asupan gizinya," ujar Prof Dr Bambang P.S Brojonegoro, Menteri PPN/Kepala Bappenas saat acara Stunting Summit oleh Kementerian PPN/Bappenas dengan tema 'Bersama Cegah Stunting', Rabu (28/3/2018).



Menurutnya, stunting bisa jadi ada di sekitar kita. Malah, ada potensi 1 dari 3 anak mengalami stunting. Tak usah jauh-jauh dari Jakarta, di Kabupaten Bogor pun masih bisa dijumpai kasus stunting.

Jika dikulik dari data secara global, isu stunting pada anak Indonesia pun juga bisa dianggap remeh. Indonesia disebut Prof Bambang turut masuk dalam daftar negara dengan masalah anak kerdil yang cukup besar.

"Kita juga bagian dari masyarakat global. Jadi kalau ada peta secara global, ada negara yang ditandai merah di peta dunia. Itu artinya negara tersebut masih tinggi stuntingnya, sayangnya Indonesia masih termasuk yang merah," tandasnya.

(ask/up)