Rabu, 02 Mei 2018 15:08 WIB

Perdebatan Etika Membiarkan Otak Tetap Hidup Setelah Kematian

Firdaus Anwar - detikHealth
Apakah suatu mahluk bisa tetap memiliki kesadaran bila otaknya saja yang masih hidup? (Foto: thinkstock)
Jakarta - Beberapa di antara kita mungkin pernah mendengar bagaimana sebuah organ bisa dibuat tetap bertahan hidup setelah pemiliknya meninggal. Biasanya hal tersebut dilakukan untuk proses transplantasi atau keperluan penelitian.

Nah namun bagaimana bila organ yang dibuat tetap hidup itu adalah otak?

Sebuah perdebatan etika belum lama ini muncul ketika peneliti dari Yale University mampu membuat otak babi bertahan hidup selama 36 jam di laboratorium menggunakan pompa, penghangat, dan darah buatan. Hal ini berhasil diraih setelah peneliti bereksperimen dengan lebih dari 100 otak babi.

Menurut pemimpin studi Profesor Nenad Sestan seluruh sel pada otak babi hidup dan memiliki aktivitas normal. Meski tidak ada buktinya, ada kekhawatiran bahwa sang hewan masih memiliki semacam kesadaran diri.

Dalam tulisan di jurnal Nature, Prof Sestan bersama 15 ahli saraf terkemuka di Amerika Serikat (AS) meminta agar dibuat peraturan yang jelas untuk memandu studinya. Hal ini karena eksperimen yang sama kemungkinan dapat dilakukan pada otak manusia.

"Jika peneliti dapat menciptakan jaringan otak yang tampaknya memiliki semacam kesadaran diri atau bisa merasakan sesuatu, apakah jaringan tersebut bisa dilindungi seperti kita menghadapi subjek penelitian seorang manusia atau hewan?" kata Prof Sestan seperti dikutip dari BBC, Rabu (2/5/2018).

Beberapa ilmuwan melihat apa yang dilakukan oleh Prof Sestan dan timnya sebagai salah satu langkah mengejar 'keabadian' ketika otak beserta kesadarannya dapat dibiarkan hidup dan dipindahkan ke tubuh lain. Namun menurut Prof Sestan hal ini dilakukan untuk lebih baik mempelajari penyakit saraf.

"Planet kita sudah kepenuhan. Anda membutuhkan tempat untuk manusia-manusia muda dengan ide baru. Gagasan untuk bergantung pada suatu mekanisme agar manusia bisa hidup selamanya menurut saya tidak baik," komentar Profesor Colin Blakemore dari University of London.
(fds/up)