Jumat, 25 Mei 2018 08:37 WIB

Menghirup Debu Luar Angkasa, Ini yang Bisa Terjadi pada Tubuh

Firdaus Anwar - detikHealth
Menghirup udara berdebu di bumi biasanya hanya akan membuat kita batuk-batuk atau bersin. Foto: (Thinkstock) Menghirup udara berdebu di bumi biasanya hanya akan membuat kita batuk-batuk atau bersin. Foto: (Thinkstock)
Jakarta - Udara berdebu jelas tidak baik untuk kesehatan karena paparan dalam jangka panjangnya bisa menimbulkan masalah paru-paru. Namun tahukah kamu kalau debu bisa jadi ancaman yang lebih serius, sebagai contoh bila kamu menghirupnya di luar angkasa.

Hal inilah yang terjadi pada seorang astronot bernama Harrison Schmitt ketika berkunjung di bulan pada tahun 1972. Saat itu Harrison seharian penuh bersin-bersin karena tidak sengaja menghirup debu bulan ketika kembali ke roket.

Saat itu tidak ada yang paham apa yang dialami Harrison, sampai studi terbaru oleh peneliti di Stony Brook University menemukan bahwa debu bulan memang memiliki dampak lebih berbahaya dari debu bumi.



Dipublikasi dalam jurnal GeoHealth peneliti menemukan bahwa permukaan debu bulan lebih tajam dan kasar dari debu di bumi. Ini karena tidak ada angin di luar angkasa sehingga butiran debu dari pecahan meteorit tidak pernah tererosi.

Tambahan lainnya adalah debu bulan bisa menyimpan muatan listrik. Hal ini akibat pengaruh paparan dari partikel angin matahari.

"Muatan listrik ini bisa begitu kuat sampai-sampai debu mengambang di permukaan bulan," tulis peneliti seperti dikutip dari Live Science, Kamis (24/5/2018).

Simulasi paparan debu luar angkasa di laboratorium menunjukkan bahwa sel paru-paru dan otak hampir 90 persen mengalami kerusakan serta kematian saat terpapar selama sekitar 24 jam. Sel yang tidak rusak menunjukkan semacam kerusakan DNA yang dapat berujung pada penyakit degeneratif atau kanker bila tidak diperbaiki.

"Sudah jelas bahwa menghindari debu bulan jadi hal yang penting untuk penjelajah luar angkasa berikutnya," pungkas peneliti.

(fds/up)
News Feed