Senin, 28 Mei 2018 08:15 WIB

Momok 'Penyakit Kota' di Pelosok Perbatasan Kalbar

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Puskesmas Paloh, Kalimantan Barat. Foto: Frieda Isyana/detikHealth Puskesmas Paloh, Kalimantan Barat. Foto: Frieda Isyana/detikHealth
Jakarta - Berlokasi di pelosok barat pulau Kalimantan tak membuat Paloh terhindar dari ancaman 'penyakit kota', seperti penyakit degeneratif atau penyakit tak menular. Menurut dokter satu-satunya di puskesmas Paloh, hipertensi dan dispepsia menjadi primadona di sana.

"Di sini di Paloh dari pertama kali saya masuk yang paling banyak itu darah tinggi (hipertensi). Darah tinggi, kencing manis, sama stroke. Tapi rata-rata penduduk Paloh ini paling banyak keluhannya dispepsia, mag," terang dr Meilani Ayu Lestari di sela program tinjauan puskesmas dari Kemenkes, Sabtu (26/5/2018).

dr Mei, sapaannya, menjelaskan pola tidur masyarakat Paloh lah yang menjadi penyebab mereka rentan mengidap dispepsia. Di mana kebanyakan saat bangun tidur di pagi hari mereka langsung melakukan aktivitas seperti bertanam atau berkebun dan baru sempat makan saat siang hari.

Kemudian, lanjut dr. Mei, secara geografis Paloh dikelilingi oleh lautan, yang menjadikan kebanyakan dari penduduknya bekerja sebagai nelayan dan memakan makanan laut yang berkontribusi besar meningkatkan tekanan darah dan mengakibatkan hipertensi.

"Banyak makanan laut seperti kepiting, kepah, tau kepah? Kepah itu sejenis kerang, tapi dia penyet. Terus ada tengkuyung (sejenis keong), telur penyu, segala apa itu makanan-makanan yang kolesterolnya tinggi," ujar dokter berparas cantik yang berusia 29 tahun tersebut.


Hipertensi dan dispepsia merupakan penyakit yang lebih umum diderita penduduk di kota besar, sehingga cukup mengherankan dapat terjadi di daerah perbatasan seperti Paloh. Selain penyakit-penyakit tersebut di atas, dr Mei mengaku juga pernah menangani pasien penyakit jantung dan umumnya kecelakaan akibat kondisi jalan yang buruk.

Ia menambahkan, dari puskesmas Paloh sendiri sebagai salah satu puskesmas yang mendapatkan perbaikan dari pemerintah, sebagai tindakan promotif sudah dilakukan beberapa intervensi seperti sosialisasi, pemeriksaan tensi, gula darah, kencing manis, dan kolesterol.

"Seperti itu setiap minggunya di setiap desa. jadi setiap ada pasien datang ke sini kami cek, terus ternyata ada gejalanya misalnya obesitas ya. Obesitas kan salah satu penyebab besar kan untuk biaa mengarah ke hipertensi, kolesterol. Jadi kami edukasi ya, lebih ke arah promotif," tandas wanita lulusan Kedokteran Universitas Tanjung Pura Pontianak ini.

(frp/up)