Senin, 28 Mei 2018 10:21 WIB

Masih Ada Balita Gizi Buruk, Kalbar Perlu Waspadai Resiko Stunting

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Balita gizi buruk di Puskesmas Sajingan Besar. Foto: Frieda Isyana/detikHealth Balita gizi buruk di Puskesmas Sajingan Besar. Foto: Frieda Isyana/detikHealth
Jakarta - Tangis kencang terdengar di lorong gedung rawat inap Puskesmas Sajingan Besar, Kab. Sambas, Kalimantan Barat. Suara tersebut berasal dari seorang balita di bangsal anak yang bertubuh sangat kurus namun berperut besar sedang menangis di pelukan ibunya.

Rupanya balita tersebut diketahui sedang mengidap gizi buruk. Kristi Silvani berusia 4 tahun dengan berat hanya 8,4 kilogram, di mana berat normal untuk anak seusianya adalah sekitar 15 kilogram.

"Udah dari kecil badannya begitu. Dia juga belom bisa ngomong, bisanya nangis terus. Dia sudah gizi buruk ini," tutur Muikim, sang ibu, Minggu (27/5/2018).

Dari pemaparannya, anak keempatnya ini sudah beberapa hari lalu demam tinggi, lalu ia membawanya ke puskesmas. Namun sudah dua hari ia berada di puskesmas belum juga diperiksa oleh dokter.

Sehari-harinya, Muikim dan keempat anaknya yang berasal dari Kampung Tanjung di kecamatan Sajingan Besar hidup lewat suaminya yang hanya bekerja di sawah.


Jika gizi buruk tak segera diatasi atau ditangani dapat membahayakan dan berpotensi menjadi stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 39 persen. Kemudian, angka ini turun menjadi 29 persen pada 2017, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019.

Bahkan beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia sudah termasuk dalam kategori kritis soal stunting. Sehingga bukan tidak mungkin anak-anak yang tinggal di pelosok juga masih akan berisiko stunting.

"Kita di dunia ini termasuk yang tinggi. Ini warning yang diberikan WHO bahwa Indonesia stunting itu tinggi. Tanpa gizi yang cukup, atau lingkungan yang baik, generasi muda bisa berbahaya," ujarnya, dikutip dari detikNews.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Untung Suseno Sutarjo yang juga hadir saat peninjauan pada puskesmas tersebut menegaskan perlu adanya pencegahan turun ke lapangan agar tidak berlanjut menjadi kronis dan stunting.



(frp/up)