Selasa, 12 Jun 2018 08:00 WIB

Ramai Depresi, Ternyata Juga Bisa Sebabkan Demensia

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Depresi bisa sebabkan demensia. Foto: Getty Images Depresi bisa sebabkan demensia. Foto: Getty Images
Jakarta - Dalam beberapa waktu terakhir, dunia sedang dikejutkan oleh berita selebriti yang bunuh diri lantaran depresi, yakni desainer kondang Kate Spade dan chef legendaris Anthony Bourdain. Depresi menjadi highlight selama seminggu penuh dan media sosial dipenuhi oleh orang-orang yang menyebarkan kepedulian mengenai gangguan mental, khususnya depresi.

Depresi bisa menyebabkan efek psikologis dan fisiologis, seperti kebiasaan tidur yang bermasalah, hilang nafsu makan dan kelelahan yang terus-menerus. Gejala-gejala tersebut dapat berpengaruh pada penuaan otak.

Sehingga menyebabkan orang-orang yang depresi bisa jadi terkena demensia alias pikun nantinya, menurut sebuah studi baru dalam jurnal Psychologycal Medicine. Dalam studi tersebut meneliti hilangnya memori, pemrosesan informasi dan pengambilan keputusan pada 71 ribu orang, yang sebagian terdiagnosis depresi secara klinis dan lainnya hanya menunjukkan gejala.


Studi ini menjadi yang kali pertama mengaitkan depresi dengan fungsi kognitif secara keseluruhan. Temuan ini bisa sangat berguna untuk mengidentifikasi risiko dan menyiapkan intervensi yang lebih awal, terutama jika membutuhkan berpuluh-puluh tahun sebelum terdiagnosis demensia.

"Temuan kami dapat memberi alasan lebih bagi pemerintah untuk lebih serius menanggapi isu-isu kesehatan mental dan memastikan bahwa kesiapan dalam kesehatan memiliki sumber daya yang tepat," kata Dr Darya Gaysina, dari University of Sussex, dikutip dari Metro UK.

Dia juga menegaskan pentingnya untuk melindungi kesehatan mental pada orang lanjut usia dengan menyediakan layanan dukungan yang kuat bagi mereka yang mengalami depresi dan kecemasan untuk menjaga fungsi otak di kemudian hari.

Seorang peneliti lainnya bernama Amber John menambahkan, "Depresi adalah masalah kesehatan mental yang umum.. tiap tahun, setidaknya satu satu dari lima orang di Inggris mengalami gejala-gejalanya."

Sayangnya, hingga kini belum ada obat bagi demensia, sementara depresi tidak bisa dicegah dengan hanya makan makanan sehat dan olahraga. Para ahli menyarankan untuk tidak merokok, makan makanan yang seimbang, jaga tekanan darah dan cek kolesterol, dan tetap aktif secara mental dan fisik untuk mengurangi risiko terkena baik depresi maupun demensia.

(frp/up)
News Feed