Rabu, 18 Jul 2018 08:50 WIB

Upaya Penurunan Stunting, Desa Haya-Haya di Gorontalo Bikin Pos Gizi

Suherni Sulaeman - detikHealth
Pos Gizi untuk cegah stunting di Gorontalo. Foto: Suherni/detikHealth Pos Gizi untuk cegah stunting di Gorontalo. Foto: Suherni/detikHealth
Gorontalo - Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek mengunjungi salah satu desa bernama Haya-Haya yang terletak di Kecamatan Limboto Barat, untuk meninjau pos gizi sebagai upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Gorontalo.

Upaya tersebut melibatkan masyarakat, memberi pemahaman dan pencegahan stunting bagi remaja putri (calon ibu) dan juga ibu hamil, sehingga hal ini perlu disadari dan diintervensi secepatnya supaya anak-anak tumbuh menjadi generasi sehat, tinggi dan cerdas.



"Inovasi positif ini bagus sekali, kita perlu sosialisasikan contoh-contoh yang baik seperti ini," ujar Nila.

"Stunting kan kekurangan gizi kronis ya, masa untuk memperbaiki ada di anak usia 2 tahun. Masih bisa sampai 5 tahun tapi sulit, hanya sedikit (15 persen). Jadi, jangan nunggu anak telanjur stunting. Terlambat itu," imbuh Nila.

Kegiatan di Pos Gizi desa Haya-HayaKegiatan di Pos Gizi desa Haya-Haya Foto: Suherni/detikHealth


Pos gizi Desa Haya-Haya dibentuk sejak tahun 2013 secara swadaya dengan memanfaatkan partisipasi masyarakat dibantu tim penggerak gizi dan bidan desa, serta dibina Puskesmas Kecamatan setempat. Namun pada tahun 2017 kegiatan pos gizi desa telah diintegrasikan dengan dana desa.

"Tujuan kami melaksanakan ini bukan semata-mata untuk pemerintah, tapi mengubah mindset masyarakat. Kegiatan ini kami laksanakan pada awal setiap tahun," terang Kepala Desa Haya-haya Kec Limboto Barat, Yasin Ingo.

Di dalam kegiatan pos gizi, hal pertama yang dilakukan ialah pendataan sasaran melalui pengukuran di Posyandu oleh kader dan divalidasi oleh petugas kesehatan. Bila ditemukan penyakit penyerta, maka dilakukan perawatan terlebih dahulu sampai pulih, baru diikutsertakan dalam pos gizi.

Menu makanan di Pos Gizi desa Haya-HayaMenu makanan di Pos Gizi desa Haya-Haya Foto: Suherni/detikHealth


Hasil pendataan ini disampaikan pada musyawarah masyarakat desa yang dipimpin oleh kepala desa (Ayahanda Desa), untuk menentukan tempat dan waktu pelaksanaan pos gizi. Lalu selama 12 hari berturut-turut, peserta pos gizi bayi (6-11 bulan) dan balita (12-59 bulan) beserta ibunya, akan dikumpulkan di pos gizi untuk dipantau penambahan berat badannya.

Di pos gizi ini ibu diajarkan personal hygiene, melakukan permainan, serta diajari kader memasak makanan berat menggunakan bahan pangan lokal. Selain itu, para peserta juga harus datang tepat waktu dan tidak boleh membawa snack, susu dan uang jajan.

(hrn/up)
News Feed