Selasa, 24 Jul 2018 10:01 WIB

Di Australia, Pemeriksaan Feses Bisa Kirim Via Pos

Widiya Wiyanti - detikHealth
Di Australia, pemeriksaan feses bisa kirim via pos. Foto: iStock/Business World Online
Jakarta - Sistem pencernaan sangat memengaruhi kesehatan seseorang, apalagi sangat berkaitan dengan apa yang kita makan dan minum setiap harinya. Tak enak pasti jika terdapat masalah pada sistem pencernaan kita.

Menurut Gut Foundation Australia, sekitar separuh penduduk Australia mengeluhkan beberapa masalah pencernaan setiap harinya. Namun, dibiarkan begitu saja tanpa adanya pemeriksaan lebih lanjut.

Imuwan senior di Brisbane, Dr Alena Pribyl akhirnya mengembangkan suatu teknologi pengurutan DNA untuk menggambarkan mikroorganisme dari sampel feses. Orang-orang pun bisa mengirimkan sampel tersebut melalui pos.

"Lima tahun yang lalu itu mungkin akan tampak gila untuk mengirimkan sampel tinja untuk mengetahui mikroba usus mana yang hidup di dalamnya, tetapi sekarang kita telah belajar lebih banyak tentang bagaimana mikroba tersebut berinteraksi dan mempengaruhi kesehatan Anda, ini adalah apa yang ingin Anda lakukan sekarang," ujarnya dikutip dari ABC.


Dr Pribyl mengatakan ini proses yang pertama kali ada di Australia. Tujuannya untuk mendeteksi sedini mungkin adanya kanker usus dengan memberikan informasi mengenai adanya masalah pada sistem pencernaan.

"Ini mungkin menghasut seseorang untuk pergi ke praktisi perawatan kesehatan mereka dan mendapatkan dokter spesialis untuk mengetahui lebih jauh mengenai diagnosisnya," tambah Dr Pribyl.

Menurut ahli imunologi Universitas Queensland, Prof Ian Frazer, kemajuan teknologi dengan tes ini sangat penting karena memahami bakteri dan mikroorganisme yang hidup di usus adalah bagian penting dari pemahaman kesehatan secara keseluruhan.

"Kami semakin menyadari bahwa bakteri dalam usus menentukan kesehatan Anda. Bukan hanya kesehatan usus Anda, tetapi banyak aspek lain dari kesehatan tubuh juga," katanya.

Tetapi Prof Frazer mengakui bahwa biaya tes ini cukup mahal bagi sebagian orang dengan biaya $ 349 atau setara dengan sekitar 3 juta rupiah.



(wdw/up)