Jumat, 27 Jul 2018 11:15 WIB

Hari Hepatitis Sedunia

1 Dari 10 Orang Indonesia Mengidap Hepatitis, Deteksi Dini Masih Kurang

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kurangnya deteksi dini membuat jumlah kasus hepatitis sulit diturunkan (Foto: Thinkstock) Kurangnya deteksi dini membuat jumlah kasus hepatitis sulit diturunkan (Foto: Thinkstock)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia
Jakarta - Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, prevalensi pengidap hepatitis di Indonesia adalah 1,2 persen, dua kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. Data ini cukup meresahkan karena di baliknya adalah kurangnya awareness masyarakat Indonesia, terutama untuk deteksi dini.

Jenis hepatitis yang paling banyak menginfeksi adalah hepatitis B (21, 8 persen) dan hepatitis A (19,3 persen). Ahli penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH menyebut fenomena hepatitis di Indonesia seperti gunung es.

"80 Persen hepatitis itu tanpa gejala, jadi orang nggak tahu kalau dia sakit. Dan juga belum tentu yang ketahuan mau diobati karena nggak ada keluhan. Selain itu kendala biaya dan efek samping juga berpengaruh. Akhirnya banyak yang datang saat udah stage-nya lanjut," tuturnya pada acara forum diskusi 'Peranan Uji Diagnostik dalam Memerangi Hepatitis' dengan Philips Indonesia di Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2018).



Hari Hepatitis Sedunia diperingati tiap tanggal 28 Juli, dan diprakarsai oleh Indonesia, Brasil dan Kolombia. Tiap tahunnya, selalu dikampanyekan pentingnya screening atau deteksi dini.

Deteksi dini pada hepatitis memang tidak bisa dideteksi secara mandiri, belum lagi jika sudah melewati tahap menjadi kanker hati. Deteksi bisa didapatkan saat ingin donor darah (ada screening pada darah yang akan didonorkan) atau dengan screening USG.

"Itu (screening USG) sebenarnya kami anjurkan setiap 6 bulan kepada pasien hepatitis dan kenyataannya belum jalan di Indonesia. Kami baru saja selesai kongres seminggu yang lalu. Salah satu rekomendasinya adalah mengusulkan ini ke Kementerian Kesehatan, supaya jadi program screening dengan USG. Masalahnya nanti adalah pembiayaan," lanjut dr Irsan.
80 Persen hepatitis itu tanpa gejala, jadi orang nggak tahu kalau dia sakit. Dan juga belum tentu yang ketahuan mau diobati karena nggak ada keluhandr Irsan Hasan, SpPD-KGEH - Pakar Hati RS Cipto Mangunkusumo

Kepedulian seputar deteksi dini yang rendah juga bisa disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang takut untuk memeriksakan ke dokter. Keengganan tersebut dipengaruhi oleh rasa takut akan mengetahui jika mengidap penyakit tertentu yang berbahaya.

"Bilangnya "Mendingan saya nggak tahu, Pak. Makan enak, minum enak, tidur enak, habis ini langsung mati aja gitu' Mohon maaf kalau kata-katanya kasar, tapi kalau ditanya nggak mau ngaku tapi banyak yang begitu. Malu mau ke dokter, dipaksa-paksa, kalau udah tergeletak nggak bisa ngapa-ngapain nggak ke dokter gitu? Padahal itu sikap yang salah," imbuh Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia.

Ia menekankan pentingnya mengkampanyekan bahwa awareness itu perlu ditimbulkan. Bukan untuk menakut-nakuti, namun untuk bersama-sama menekan angka pengidap hepatitis dan penyakit kronis lainnya di Indonesia supaya tidak lagi ketahuan pada stadium lanjut yang berakibat angka harapan hidupnya menjadi kecil, tandasnya.


Tonton juga video: 'Hari Moekti Terkena Stroke, Kenali 5 Gejala Umumnya'

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia
News Feed