Jumat, 27 Jul 2018 12:08 WIB

Hari Hepatitis Sedunia

Dari 2,5 Juta Pengidap Hepatitis C di Indonesia, Hanya 3.000 yang Mau Diobati

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Pengobatan hepatisis C banyak sekali tantangannya (Foto: Thinkstock)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia
Jakarta - Meski hepatitis di Indonesia yang paling banyak diidap adalah tipe A dan B, namun tipe C juga masih tergabung dalam prevalensi hepatitis. Penularan hepatitis C hanya melalui darah yang terkontaminasi virus hepatitis C (HCV) atau berhubungan badan dengan orang yang terinfeksi.

Hingga kini, belum ada vaksin untuk menangani hepatitis C dan biasanya pengidapnya diberi obat-obatan tiap dua hingga enam bulan. Di Indonesia, obat ini diberikan gratis lewat program dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) bagi pengidap hepatitis C.

"3-4 tahun ini hepatitis C mengalami kemajuan pesat. Kita bilang revolusi, karena ada obat yang membuat hepatitis C ini sembuh, mendekati 100 persen," tutur dr Irsan Hasan, ahli penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo dan Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, Kamis (16/72018).



dr Irsan menceritakan bahwa dari pihak perhimpunan menginginkan obat tersebut. Namun pesimis dapat masuk ke Indonesia lantaran harga per pengobatan (rata-rata 3 bulan) adalah 1,2 miliar rupiah.

"Lalu kita usulkan Kemenkes dengan segala macam usaha supaya obat ini bisa masuk. Lalu dibuatlah surat permintaan ke WHO dan sebagainya, sehingga kemudian negara-negara yang mengajukan ini didengar dan diperbolehkan mengedarkan obat versi 'generik'nya," lanjutnya.

Setelah setahun program ini berjalan mulai dari 2017, dari sekitar 2,5 juta pengidap hepatitis di Indonesia (dari jumlah prevalensi sebesar 1,2 persen per 250 juta penduduk Indonesia), yang sudah diobati secara gratis untuk hepatitis C hanya 3.000 orang. dr Irsan menyebut jumlah ini cukup jomplang dari jumlah yang sadar kalau sakit dan jumlah yang sakit.

Yang lebih ironis lagi, menurut dr Wiendra Waworuntu, MKes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, 3.000 orang tersebut datang karena tergabung dalam suatu komunitas.

"3.000 dateng itu terus terang karena komunitas. Hepatitis C ini revolusioner karena ada komunitas dari penderita hepatitis C yang mengidap HIV. Jadi itulah kenapa gaungnya lebih," ujarnya.

Walau ada obat gratis, namun lagi-lagi kesadaran masyarakat Indonesia mengenai penyakit kronis khususnya hepatitis masih sangat rendah. Padahal, hepatitis C ini dikhawatirkan dapat menjadi silent killer karena berpotensi menimbulkan komplikasi sirosis, kanker dan juga gagal hati.



Tonton juga video: 'Apakah Sering Kesemutan adalah Indikasi Stroke?'

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia