Jumat, 17 Agu 2018 13:10 WIB

Apa Sih Bedanya Delusi sama Halusinasi? Ini Penjelasannya

Noviani Widyaningrum - detikHealth
Delusi dan halusinasi bisa terjadi karena adanya ketidak seimbangan neurotransmiter yang ada di otak. Foto: ilustrasi/thinkstock Delusi dan halusinasi bisa terjadi karena adanya ketidak seimbangan neurotransmiter yang ada di otak. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Gangguan pemikiran bisa dialamai oleh siapa saja. Ada bebagai macam gangguan pemikiran yang bisa terjadi pada manusia, di antaranya ada yang namanya delusi dan halusinasi. Gangguan yang dialami ketika seseorang mengalami delusi atau halusinasi memang mirip, namun ternyata gangguan ini ternyata memiliki arti yang yang berbeda.

Seperti yang dijelaskan oleh dr Yuliana Ratna Wati SpKJ, delusi (waham) adalah sebuah gangguan meyakini suatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan.

"Delusi atau waham itu adalah sebuah gangguan pemikiran, seorang yang meyakini sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Sifatnya delusi sangat meyakini dan tidak bisa dibantah, dipatahkan, atau dikorekasi dengan cara apapun," ungkapnya.

"Bahkan meski dipaparkan dengan data objektif seperti apapun tetap tidak bisa merubah keyakinannya," tambahnya.



Jadi delusi sebuah keyakinan tidak sesuai dengan kenyataan yang dipegang oleh seseorang. Lalu apa bedanya dengan halusinasi?

Halusinasi adalah sebuah gangguan presepsi sensasi pada pancaindra. Seseorang yang mengalami halusinasi mereka bisa mendengar suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

"Kalau halusinasi adalah gangguan pada persepsi. Persepsi itu sensasi pancaindera yang sudah diolah dan mendapat pemahaman di otak. Jadi halusinasi bisa berupa halusinasi dengar, lihat, kecap atau bau (sesuai panca indera)," kata dr Yuliana.

Kedua gangguan ini bisa terjadi karena adanya ketidak seimbangan neurotransmiter yang ada di otak. Orang yang mengalami delusi pada umumya juga mengalami halusinasi.

"Biasanya iya. Menurut terminologi psikiatri orang yang mengalami delusi dan halusinasi berarti dalam kondisi psikotik. yang bersangutan tidak bisa lagi membedakan nyata dan tidak nyata, fantasi, atau realita," tutupnya.



(up/up)