Selasa, 21 Agu 2018 14:50 WIB

Vaksin MR Disebut Haram, Capaian Imunisasi Ponorogo 95 Persen

Charolin Pebrianti - detikHealth
Ilustrasi pemberian vaksin (Foto: Ari Saputra) Ilustrasi pemberian vaksin (Foto: Ari Saputra)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
Ponorogo - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin measles rubella (MR) haram karena proses produksinya menggunakan unsur dari babi. Meski begitu, ada poin yang menyatakan vaksin ini tetap boleh dipakai. Bagaimana tanggapan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo?

"Jadi dalam pemberian imunisasi itu kami dilindungi dengan Permenkes No.12 Tahun 2017, jadi ada payung hukumnya," tutur Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dr Yayuk Kuswardini kepada detikHealth saat ditemui di kantornya Jalan Basuki Rahmat, Ponorogo, Selasa (21/8/2018).

Data yang dihimpun dari Dinkes Ponorogo tahun 2017 dari 346 kasus yang positif measles/campak ada 6 orang sedangkan rubella 52 orang. "Tahun 2018 ini sampai pertengahan tahun kemarin ada 51 kasus, tapi kami masih belum tahu yang positif berapa," jelas dia.

Yayuk menambahkan Ponorogo sendiri sudah melaksanakan vaksin MR sejak tahun 2017. Hal ini untuk mencegah perkembangan virus MR yang bisa menyerang ibu hamil dan membahayakan janin. Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak takut terkait fatwa MUI tersebut. Namun Yayuk juga tidak menampik ada sejumlah masyarakat yang menolak.

"Tapi kita lihat dampak positifnya, vaksin ini bisa menurunkan angka kesakitan. Lebih tinggi manfaatnya daripada jeleknya," tukas dia.



Menurutnya, jika seorang anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap dan dikemudian hari ditemukan penyakit akibat tidak diberikan imunisasi di luar negeri bisa menuntut. Sedangkan di Indonesia sendiri melalui UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, seorang anak berhak mendapatkan imunisasi dan pelayanan kesehatan.

"Kalau tidak lengkap pemberian imunisasi, kan kasian anaknya nanti," papar dia.

Dia pun menyontohkan di Ponorogo sendiri pada akhir tahun 2017 lalu ada seorang bayi yang mengalami bocor jantung karena sindrom rubella kongenital. Penyebabnya saat hamil, sang ibu terpapar virus rubella dan tidak memiliki anti bodi.

"Jadi untuk mencegah hal-hal seperti itu, lebih baik ikuti saja peraturan yang ditetapkan pemerintah demi kebaikan bersama," imbuh dia.

Beruntung bumi reog sendiri berhasil menjalankan 95% proses vaksinasi pada Agustus-September 2017 lalu. "Setidaknya 95% kami berhasil melakukan imunisasi, masyarakat Ponorogo sadar akan pentingnya kesehatan," pungkas dia.

(up/up)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR