Wabah Flu dan Opioid Turunkan Angka Harapan Hidup di Amerika Serikat

ADVERTISEMENT

Wabah Flu dan Opioid Turunkan Angka Harapan Hidup di Amerika Serikat

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 23 Agu 2018 09:55 WIB
Merebaknya wabah flu dan masalah opioid di Amerika Serikat membuat angka harapan hidup turun. Foto: Tom Pennington/Getty Images
Jakarta - Merebaknya wabah flu dan masalah opioid di Amerika Serikat membuat angka harapan hidup turun. Tingginya angka kematian akibat flu dan opioid di kelompok usia berbeda ditengarai menjadi penyebabnya.

Wabah flu yang cukup parah beberapa tahun terakhir meningkatkan angka kematian pada kelompok lanjut usia (lansia) dan anak-anak. Di sisi lain, penyalahgunaan narkoba jenis opioid membuat remaja dan dewasa muda meninggal karena overdosis.



Studi yang dilakukan oleh Jessica Ho dari University of Southern California, Los Angeles, menyebut angka harapan hidup turun di 12 dari 18 negara maju, termasuk Amerika Serikat. Angka harapan hidup turun pada tahun 2014-2015 di mana wabah flu mengakibatkan kematian pada lansia.

Selain flu, kematian pada lansia meningkat juga dikarenakan naiknya angka penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke, diabetes, dan alzheimer kini semakin marak menyerang lansia negara maju.

Di sisi lain, studi yang dilakukan Dr Steven H. Woolf dari Virginia Commonwealth University menyebut angka kematian pada remaja dan dewasa muda juga meningkat di Amerika Serikat. Penyebab utamanya adalah penyalahgunaan opioid yang bisa menimbulkan berbagai macam komplikasi.

"Penyebab kematian utamanya tetap overdosis narkoba. Mereka yang overdosis dan tidak meninggal juga rentan mati muda karena depresi, bunuh diri, dan kecanduan alkohol," ungkap Woolf, dikutip dari Reuters.

Domantas Jasilionis dari Max Planck Institute for Demographic Research, Jerman, menulis editorial untuk dua studi yang diterbitkan di jurnl BMJ ini. Ia mengatakan masalah-masalah kesehatan yang dialami negara maju butuh penanganan serius agar angka harapan hidup tak turun.

"Faktor psikologi yang berbaur dengan sosial menyebabkan masalah kesehatan baru, yakni pengambilan keputusan yang buruk. Tidak vaksin, menyepelekan olahraga, serta menggunakan narkoba merupakan contohnya," tutup Jasilionis.

(mrs/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT