Kamis, 23 Agu 2018 14:52 WIB

Dorong Vaksin MR, IDAI Sebut Campak di Indonesia Terjelek Kedua Sedunia

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Indonesia termasuk dari 10 negara dengan jumlah campak terbesar di dunia. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Fatwa Nomor 33 tahun 2018 dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan penegasan bahwa vaksin MR (Maesles Rubella) hukumnya mubah alias diperbolehkan. Ini mengingat vaksin MR memberikan manfaat untuk perlindungan anak Indonesia dari penyebaran penyakit campak tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2015 menyebutkan Indonesia termasuk dari 10 negara dengan jumlah campak terbesar di dunia. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan total kasus suspek Campak-Rubella yang dilaporkan antara 2014 sampai dengan Juli 2018, tercatat sebanyak 57.056 kasus dengan masing-masing 8.964 untuk campak dan 5.737 positif Rubella.

Lebih detail, di tahun 2014 tercatat 12.943 suspek Campak-Rubella (1.194 positif campak dan 1.474 positif Rubella). Angka ini kemudian meningkat menjadi 13.890 di tahun 2015, dan turun lagi menjadi 12.370 di tahun 2016. Akan tetapi, terjadi lonjakan di tahun 2017 menjadi 15.104 kasus suspek Campak-Rubella.



Namun, angka ini berhasil ditekan dan turun drastis dengan laporan yang menunjukkan sampai dengan Juli 2018, jumlah kasus suspek Campak-Rubella sebanyak 2.389.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), dalam acara konferensi pers di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kamis (23/8/2018), menjelaskan pentingnya pelaksanaan vaksin MR untuk anak-anak Indonesia.

"Kalau darurat sangat darurat. Kita harus lihat dua hal, campak satu rubella. Campak kita masih jelek kedua di dunia setelah India," jelas dr Aman.

Angka-angka yang telah dijelaskan di atas menjadi hal yang sangat penting untuk mendorong pelaksanaan vaksin MR di Indonesia.




Tonton juga video: 'Duh! Sudah Dapat Vaksin Lengkap, Kenapa Ada Pasien Kena Difteri?'

[Gambas:Video 20detik]

(ask/up)