Kamis, 30 Agu 2018 14:42 WIB

Kemenkes Luruskan Pernyataan Soal Sertifikasi Halal Vaksin

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi pemberian vaksin difteri (Foto: Ari Saputra) Ilustrasi pemberian vaksin difteri (Foto: Ari Saputra)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
Jakarta - Dalam wawancara dengan wartawan di Teluk Bintuni, Papua Barat, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyebut sertifikasi halal untuk vaksin sudah dikeluarkan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sebelumnya, MUI menyatakan vaksin MR (Measles Rubella) bersifat mubah alias boleh digunakan meski dalam produksinya melibatkan unsur haram.

"Bahwa yang dimaksud dengan pernyataan Menteri Kesehatan bukan sertifikasi halal tetapi Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi dan Fatwa MUI nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institute of India) Untuk Imunisasi," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Widyawati, dalam klarifikasinya, Kamis (30/8/2018).

"Di mana fatwa MUI tersebut membolehkan (mubah) program imunisasi MR dan penggunaan vaksin MR karena ada kondisi darurat, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci serta adanya keterangan ahli yang kompeten akan bahaya jika tidak diimunisasi," lanjutnya.



Kepada detikHealth, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam menegaskan bahwa vaksin MR produksi SII tidak bisa mendapat sertifikasi halal karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

Namun kepada wartawan beberapa waktu lalu, MUI telah menegaskan bahwa umat muslim tidak perlu ragu untuk memberikan vaksin MR pada anak-anak. Kondisi faktual yang didasari informasi dari ahli yang kompeten dan kredibel menjadi rujukan untuk membolehkan imunisasi.

"Fatwa ini bisa jadi panduan dan rujukan masyarakat muslim untuk tidak ragu lagi mengikuti imunisasi MR dengan vaksin yang sudah disediakan pemerintah," kata Niam saat itu.




Saksikan juga video 'Vaksin Palsu Beserta Dampak yang Ditimbulkannya':


(up/ask)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR