Kamis, 06 Sep 2018 11:34 WIB

Komedian Ini Ngelawak dan Bernyanyi Selama Jalani Operasi Otak 9 Jam

Widiya Wiyanti - detikHealth
Selama operasi 9 jam, komedian asal Skotlandia terus ngelawak dan bernyanyi. Foto: thinkstock Selama operasi 9 jam, komedian asal Skotlandia terus ngelawak dan bernyanyi. Foto: thinkstock
Jakarta - Operasi, mendengarnya saja sudah membuat jantung berdebar kencang, apalagi yang menjalaninya. Tapi mungkin komedian asal Skotlandia ini punya cara unik untuk mengatasi ketakutannya menjalani operasi.

Dikutip dari Mirror, pada bulan Desember lalu, Sarah May Philo mengalami kejang dalam tidurnya. Ia pun dibawa ke Glasgow Elizabeth University Hospital dan kemudian didiagnosis tumor otak besar atau disebut oligodendroglioma.

Sarah harus menjalani operasi otak besar. Yang mencengangkan, selama sembilan jam operasi, Sarah sepenuhnya sadar dan malah membuat para dokter tertawa dengan leluconnya.

"Saya ingin tetap terjaga dan berbicara sehingga mereka akan melihat bagian otak saya yang apa mengendalikan," ujarnya.

"Untuk satu jam pertama, itu berjalan normal. Tapi kemudian di tengah-tengah operasi, dokter bedah berkata "oops". Saya seperti "apa maksudmu oops? Jangan mengatakan itu ketika Anda membuat otak saya terbuka". Semua orang tertawa terbahak-bahak, itu benar-benar memecahkan suasana. Rasanya seperti berada di kafe bersama temanmu," lanjut Sarah.



Meskipun sekujur tubuhnya mati rasa, Sarah dan dokter benar-benar melakukan percapakan lucu. Tidak ada ketegangan di ruang operasi tersebut.

Bukan hanya berkelakar, Sarah juga sempat bernyanyi. Ia menyanyikan lagu berjudul Ave Maria dan lagu-lagu improvisasi lainnya. Bahkan ia membuatkan lagu untuk para petugas medis, ahli bedah, dan ahli anastesi di runag operasi.

"Bagian dari rutinitas komedi saya adalah membuat lagu di tempat tentang orang-orang yang ada di depan saya," ungkap Sarah.

Operasi pun berjalan lancar. Meskipun masih ada 15 perse tumor di otaknya, tapi Sarah mengatakan bahwa dirinya sudah jauh lebih baik. Ia juga harus menjalani kemoterapi dan pengobatan lainnya.

"Saya merasa sangat baik. Saya kembali ke sekolah dan anak-anak bertanya tentang kepala botak saya," tutur Sarah yang juga seorang guru.

"Itu lucu dan indah dan semua orang kembali normal dan itu membuat saya merasa normal," tutupnya.



(wdw/up)