Selasa, 11 Sep 2018 08:10 WIB

Lebih dari 100 Ibu di Riau Terkena Campak dan Lahirkan Anak Cacat

Haidir Anwar Tanjung - detikHealth
Ilustrasi imunisasi MR. Foto: Ari Saputra
Pekanbaru - Sungguh menyedihkan. Data yang baru terhimpun di Riau ada 100 ibu hamil terkena campak. Imbasnya kini mereka memiliki anak-anak yang cacat.

"Data yang kita dapatkan baru 100 ibu-ibu hamil terkena campak. Ini kondisinya mereka yang mau membuka diri. Bisa jadi masih ada lagi yang belum mau membuka diri soal anaknya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir dalam diskusi 'Situasi dan Ancaman Penyakit Campak dan Rubella' di Provinsi Riau, Senin (10/9/2018).

Dalam acara ini Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga menggandeng, UNICEF, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Riau dan Dinas Kesehatan Pekanbaru. Hadir juga belasan ibu-ibu korban campak yang membawa anak-anaknya kondisi cacat.

Mimi mengungkapkan, Riau termasuk dalam endemi campak atau measles dan rubella (MR). Tercatat hingga Juli 2018 ada 972 kasus campak-rubella.

"Di Riau jumlahnya tergolong banyak. Makanya kita benar-benar menjalankan pemerintah untuk melakukan vaksin MR pada anak," kata Mimi.

Hanya saja, kata Mimi, dalam perjalanannya untuk melakukan vaksin harus tertatih-tatih. Ada sekelompok masyarakat yang menolak vaksin tersebut. Sehingga, sebagian pemerintah kabupaten dan kota ada yang menghentikan sementara suntik vaksin untuk anak-anak.

"Pemerintah dalam programnya vaksin MR ini demi masa depan anak-anak bangsa. Dan program ini juga berjalan secara internasional. Tapi memang sandungan di lapangan masih banyak. Kita mengharapkan semua pihak, untuk sama-sama membawa anaknya vaksin MR demi kebaikan bersama," kata Mimi.



Di Pekanbaru, kata Mimi, pelaksanaan vaksin MR memang dihentikan sementara. Penghentian ini karena adanya pro dan kontra. Namun demikian, diharapkan Pemkot Pekanbaru untuk dapat kembali melaksanakan program vaksin tersebut.

"Perlu kesadaran bersama akan pentingnya vaksin ini untuk kesehatan anak-anak kita," kata Mimi.

Khusus kepada ibu yang saat hamil terkena campak, kata Mimi, pihaknya sengaja menghadirkan diacara diskusi. Ini diharapkan, agar wartawan bisa langsung mendapatkan informasi dari para korban.

"Untuk mengumpulkan mereka bukan hal yang mudah. Karena belum tentu semua mau terbuka soal ini. Kami mengharapkan dukungan teman-teman media dalam membantu sosialisasi. Ibu-ibu ini kami hadirkan dengan anak-anaknya yang korban campak, sebagai bukti nyata," kata Mimi.

Dalam acara ini, para kaum ibu dan suaminya membawa anak-anak mereka yang terkena campak saat dalam kandungan. Pantauan detikHealth di acara itu, anak-anak tersebut ada yang mengenakan alat bantu pendengaran. Ada lagi kondisinya harus mengenakan kaca mata yang tebal. Usia mereka dari balita hingga belasan tahun.

Pengakuan sejumlah dari orang tua anak korban campak, ada juga yang harus operasi karena jantungnya rusak. Pendengaran mereka rusak. Mata mereka rusak. Kondisi anak-anak yang terkena campak sangat menyedihkan.



(up/up)