Selasa, 18 Sep 2018 18:24 WIB

Stigma Masih Kuat, Bunuh Diri Dianggap Cuma karena 'Kurang Beriman'

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Bantu mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya dengan tidak memberikan stigma. (Foto: Thinkstock) Bantu mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya dengan tidak memberikan stigma. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Berbagai stigma terkait bunuh diri masih beredar. Aksi mengakhiri hidup tersebut dilabeli dengan 'tidak menghargai hidup', 'kurang beriman', atau 'tidak mensyukuri apa yang dimiliki', dan lain sebagainya. Devan (19), seorang penyintas bunuh diri, juga menyayangkan hal tersebut.

Devan menyebut, stigma merupakan hal alamiah yang dilakukan oleh manusia. Ia sendiri kerap mengalami stigma-stigma dari orang sekitarnya. Namun ia berkata bahwa stigma bukan seharusnya dihentikan, namun justru kitalah yang mengubah sikap kita terhadap stigma

"Kita itu punya tendensi buat mengkategorikan banyak hal, intinya buat menghindari bahaya. Caranya sebenarnya bukan untuk menghentikan stigma itu sendiri, namun bagaimana cara kita menghadapi pemikiran kita sendiri saat kita menghakimi orang lain," kataDevan kepadadetikHealth, saat ditemui di kawasanSerpong, baru-baru ini.

Poin yang ditegaskan oleh Devan adalah daripada langsung melabeli mereka yang memiliki keinginan bunuh diri dengan negatif, ubah pikiran kita menjadi sikap empati, seperti bertanya 'seberapa besar masalah tersebut hingga membuat ia berpikir untuk bunuh diri?' atau 'apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi seperti itu?'.

"Jadi kalau misalnya ada orang yang menunjukkan peringatan bunuh diri jangan malah otomatis bilang 'hah, kok lo gitu payah banget sih, kayak gitu doang nggak bisa' itu langsung di-stigma 'lo orang lemah' gitu. Pertanyaannya itu adalah, masalahnya sebesar apa sampe dia bisa berpikiran seperti itu," lanjutnya.

Ditambahkan oleh Benny Prawira, pendiri Komunitas Into The Light Indonesia bahwa stigma orang yang bunuh diri itu ingin mati adalah salah. Benny berkata, orang yang bunuh diri itu karena dia tidak bisa melihat pilihan lain selain lari dari rasa sakitnya.

Seringkali, ia menambahkan, orang yang selamat dari percobaan bunuh diri justru berterima kasih karena telah diselamatkan. Kemudian ada lagi asumsi bahwa orang yang serius ingin mati itu tidak akan meninggalkan sesuatu, karena itu akan membatalkan niatnya.

"Ya kan asumsinya kalau dia pengen mati seharusnya tidak meninggalkan petunjuk, kalau mau mati ya mati saja. Kita mikirnya gitu kan, jadi nggak usah ngomong-ngomong sama orang. Ada sebuah penelitian terbaru tentang bunuh diri yang bilang bahwa perilaku bunuh diri ada cry of pain (tangisan rasa sakit). Jadi ada bentuk komunikasi dari rasa sakit yang pengen dia larikan itu," ujarnya.

Secara umum, proses seseorang melakukan bunuh diri cukup panjang. Mulai dari pemikirannya, perencanaannya, detail-detail nya hingga percobaannya. dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta mengatakan pentingnya empati terhadap sesama dan mengurangi perilaku cuek agar mengurangi meningkatnya angka bunuh diri.

"Makanya harus be kind dan jangan asal jeplak. Itu kenapa perlu empati karena empati mengingatkan kita kalau tidak mau dibegitukan ya jangan perlakukan itu. Karena kita tidak tahu mana orang yang sedang bermasalah, kalau iya bermasalah terus diperlakukan begitu ya iya itu pemicu," tandasnya.

(up/up)
News Feed