Minggu, 23 Sep 2018 16:20 WIB

Anthony Ginting, Contoh Nyata Bangkit dari Komen Buruk Warganet

Rosmha Widiyani - detikHealth
Anthony Ginting Jawara China Terbuka 2018 meski sebelumnya dibully. (Foto: Dok. Hujmas PBSI) Anthony Ginting Jawara China Terbuka 2018 meski sebelumnya dibully. (Foto: Dok. Hujmas PBSI)
Jakarta - Anthony Ginting berhasil menjuarai China Open 2018 setelah melalui partai final pada Minggu (23/9/2018). Menapaki prestasi Ginting, publik tentu masih ingat cedera yang menghalangi langkahnya pada Asian Games 2018. Sebagian warganet memberi motivasi, namun tak jarang yang mencibir perjuangan atlet yang saat itu mengalami keram kaki kiri.

Komen negatif dalam sosial media tak bisa dianggap remeh, karena bisameruntuhkanself-esteem korban hingga bunuh diri. Namun,Ginting terbukti mampu mencegah efek burukmemengaruhi penampilannya. Dilansir dari lamanABCNews, perilakutrolling yang dilakukan sebagianwarganet padaGinting memang tak perlu dianggap serius. "Jangan memberi makantroll dengan reaksi yang berlebihan, karena hal itu membuat mereka merasa berhasil," katapsikologEvitaMarch.


Trolling didefinisikan sebagai perilaku warganet yang menipu dan mengganggu, dengan mengunggah komentar yang bernada negatif. Komentar yang menjengkelkan dan jahat ini biasanya bertujuan memprovokasi atau membuat kesal. March menjelaskan, perilaku trolling digerakkan yang disebut atypical social rewards. Hal ini berkebalikan dengan kebanyakan orang yang ingin membuat lingkungan positif, dengan memberi penghargaan dan komentar positif.

Perilaku atypical social rewards didasari rendahnya rasa empati, bersalah, dan tanggung jawab atas tindakan mereka. Pada beberapa kasus, trolling terkait sadisme dan senang melihat orang lain sakit secara fisik dan psikologi. Dalam beberapa kasus, pelaku troll ternyata memiliki kecerdasan emosi dan tingkat psikopati yang tinggi. Mereka tahu yang menyebabkan orang lain sakit hati, namun memilih tak peduli demi kepuasan pribadi.

Pelaku trolling biasanya minim rasa takut pada hukuman, sehingga sanksi tak efektif membatasi perilaku tersebut. Minimnya empati bisa diperbaiki dengan terapi tingkah laku, namun tidak dengan psikopati. Dengan fakta ini, March menyarankan membalas perilaku trolling dengan sikap positif. Perilaku yang menghargai dan menghormati orang lain menyebabkan pelaku trolling merasa gagal.




(up/up)
News Feed