Kamis, 04 Okt 2018 07:33 WIB

Setelah Oplas Jadi Lebih Percaya Diri? Psikolog Bilang Belum Tentu

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi operasi plastik (Foto: iStock)
Jakarta - Ratna Sarumpaet diketahui bohong terkait tindakan operasi plastik yang dilakukannya. Kebohongan Ratna mungkin hanya satu dari ribuan hal serupa yang dilakukan pasien oplas. Prosedur sedot lemak untuk memperbaiki penampilan sendiri bukan hal asing.

Dikutip dari Psychology Today, oplas sebetulnya tak serta merta membuat seseorang tampak menarik di mata orang lain atau diri sendiri. Dosen psikologi di The College of New Jersey Ted Cascio mengatakan, hal tersebut bergantung atas persepsi seseorang pada diri dan lingkungan.

"Oplas juga tidak lantas membuat seseorang bahagia karena hal itu kembali pada diri sendiri," katanya.



Penilaian positif terhadap diri sendiri memang punya kecenderungan subjektif dan berlebihan. Namun menurut Ted, hal itulah yang diperlukan untuk suatu perspektif positif. Dalam beberapa kasus, oplas memang berdampak baik pada perspektif diri. Namun, cara pikir yang baik lebih berpengaruh pada proses tersebut.

Hasilnya, seseorang menjadi lebih mudah menerima kekurangan diri secara fisik dan mental. Penilaian yang baik membantu seseorang tak lagi merasa rendah diri, mengatasi kecemasan, depresi, dan fobia sosial. Hal serupa terjadi pada yang mengalami body dysmorphia, kecewa terhadap diri sendiri, dan tidak kunjung puas.

Anggapan oplas bisa memperbaiki kondisi psikologis dan citra diri memang tak bisa dihapus begitu saja. Namun Tom mengingatkan untuk tidak berharap terlalu banyak pada tindakan medis tersebut. Seseorang bisa merasa dirinya menarik dan bahagia tanpa perlu melakukan oplas. Penilaian positif membantunya mengatasi anggapan buruk dari luar, yang cenderung merusak kesehatan jiwa dan psikologis.

(up/up)