Jumat, 05 Okt 2018 09:37 WIB

Dokter Jiwa Sarankan Hindari Istilah 'Trauma' untuk Korban Gempa Sulteng

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
KRI Makassar 590 membawa pengungsi korban gempa Palu untuk berangkat ke Makassar (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyebut terlalu dini mengatakan korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mengalami trauma. Reaksi yang ditemukan saat ini umumnya tergolong normal.

"Reaksi ini normal. Kemarahan, tidak menerima kenyataan, atau kehilangan anggota keluarga, tentu hal tersebut akan berdampak pada perilaku seseorang," kata Ketua PDSKJI dr Eka Viora, SpKJ dalam rilis untuk wartawan, Kamis (4/10/2018).

Perilaku tersebut, menurut dr Eka antara lain terdorong oleh kondisi listrik belum menyala, BBM (Bahan Bakar Minyak) sulit, makanan menipis, dan situasi lain. Dalam kondisi tersebut, menurutnya istilah trauma. dan depresi bisa memicu dampak buruk yang berkepanjangan.

"Bukan istilah trauma healing yang sebaiknya digunakan, tetapi psycological first aid yang perlu diberikan dalam situasi saat ini," kata dr Eka.


Salah satu titik lokasi pengungsian berada di perbukitan Donggala.Salah satu titik lokasi pengungsian berada di perbukitan Donggala. Foto: Pradita Utama


Dalam kondisi emergency seperti yang terjadi di Palu dan sekitarnya, dr Eka menyebut yang paling dibutuhkan adalah dukungan sosial dan psikososial. Misalnya mendengarkan keluhan dan memenuhi kebutuhan dasar, untuk membantu menstabilkan emosi agar kembali ke normal emotional state.

"Di awal-awal terjadi ini sudah banyak yang menyebut bahwa para korban mengalami stress pasca trauma. Belum. Karena untuk menegakkan diagnosis pasca trauma itu ada kriterianya berdasarkan klasifikasi penyakit secara internasional (ICD-10) ada kriteria waktu," tegas dr Eka.

(up/up)