Rabu, 10 Okt 2018 16:13 WIB

Ngurus Dapur hingga Karier, Perempuan Berisiko Kena Dampak Polusi Udara

Rosmha Widiyani - detikHealth
Uji emisi untuk menekan polusi asap kendaraan. Foto: Ari Saputra Uji emisi untuk menekan polusi asap kendaraan. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Kematian istri komedian Indro Warkop, Nita Octobijanthy, menjadi pelajaran pentingnya upaya preventif menghadapi kanker paru-paru. Penyakit ini tak hanya diakibatkan rokok, tapi juga polusi udara yang salah satu kandungannya adalah asap rokok. Perempuan secara umum menempati peringkat kedua yang berisiko paling besar terkena dampak buruk polusi udara.

Risiko pada perempuan berasal dari urusan rumah tangga serta asap kendaraan, jika merangkap sebagai wanita karir. Ukuran partikel dalam polusi udara saat ini diketahui sangat kecil hingga kurang dari 0,1 mikrometer atau ultra fine particle (UFP). Semakin kecil ukuran partikel maka daya toksisitas bagi paru makin besar.


"Dengan ukuran yang makin kecil, partikel polusi bisa masuk hingga aliran darah dan merusak perkembangan sel paru. Pajanan dalam waktu lama bisa mengakibatkan masalah pernapasan, mulai dari sesak napas hingga kanker paru," kata dokter ahli paru Agus Dwi Susanto dari RS Persahabatan.

Besarnya risiko polusi pada kanker paru juga dibuktikan dalam riset yang dilakukan Agus pada 2013. Riset menyatakan, sebanyak empat persen dari 300 pasien kanker paru di RS Persahabatan diakibatkan paparan polusi udara. Hal serupa terjadi di Inggris, yang sekitar 8 persen kasus kanker parunya berkaitan dengan polusi udara.

Dengan faktor risiko yang besar, Agus menyarankan perempuan untuk melakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Hal ini meliputi menjaga pola makan, rajin olahraga, dan tidak merokok. Perempuan juga sebaiknya menggunakan masker atau membatasi frekuensi bepergian, untuk mengurangi paparan polusi.

(Rosmha Widiyani/up)
News Feed